BEEF Geser Strategi, Kuatkan Prospek Kinerja dan Valuasi
:
0
Suasana Cold Storage baru besutan perseroan di Cikarang, Bekasi. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Transformasi bisnis Estika Tata Tiara (BEEF) ke perdagangan daging beku impor mulai mendapat perhatian analis. Di tengah kebutuhan protein hewani terus meningkat, strategi tersebut dinilai menempatkan perseroan pada posisi lebih baik untuk memanfaatkan defisit pasokan daging nasional sekaligus mempercepat pemulihan kinerja.
Berdasar riset terbitan edisi 18 Juni 2026, analis PT Sinarmas Sekuritas (SimInvest) Yosua Zisokhi menilai perubahan model bisnis BEEF telah memberi dampak positif terhadap prospek perusahaan. “Pemulihan kinerja BEEF makin terlihat, didukung keberhasilan perseroan mengalihkan fokus bisnis ke perdagangan daging beku impor,” tulis Yosua dalam laporannya.
Menurut SimInvest, bisnis perdagangan daging beku impor telah menjadi kontributor utama dengan menyumbang 94,5 persen pendapatan BEEF pada 2025. Perseroan juga telah meningkatkan volume impor menjadi sekitar 10.000–35.000 ton per kuartal, sehingga dinilai memiliki kapasitas untuk menangkap peluang dari masih terbatasnya pasokan daging sapi di dalam negeri.
Riset tersebut juga mencatat konsumsi daging sapi per kapita di Indonesia tumbuh rata-rata sekitar 1,77 persen per tahun sepanjang 2021–2025, dan mencapai sekitar 2,7 kilogram per kapita pada 2025. Namun, Indonesia masih diperkirakan menghadapi defisit pasokan daging sapi dan kerbau sekitar 250 ribu ton per tahun hingga 2030, sehingga kebutuhan impor diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa tahun mendatang.
Di sisi operasional, BEEF telah memperluas kapasitas cold storage menjadi lebih dari 26 ribu ton tersebar di beberapa fasilitas. Infrastruktur tersebut dinilai memberi ruang bagi perseroan untuk meningkatkan volume perdagangan sekaligus mendukung efisiensi distribusi. Tidak hanya mengandalkan perdagangan daging, SimInvest juga menyoroti pengembangan bisnis penggemukan sapi dan dairy.
Kedua segmen tersebut diperkirakan memiliki margin lebih tinggi dibanding perdagangan daging beku, sehingga berpotensi mendorong perbaikan profitabilitas melalui perubahan bauran bisnis dalam beberapa tahun ke depan. Secara keseluruhan, SimInvest memperkirakan pendapatan BEEF dapat tumbuh dengan laju dua digit dalam beberapa tahun mendatang, diikuti peningkatan laba operasional, dan laba bersih seiring perbaikan struktur bisnis perseroan.
Selain itu, rasio utang terhadap ekuitas (DER) juga diproyeksi menurun secara bertahap sejalan penguatan fundamental perusahaan. Meski prospek dinilai positif, investor tetap perlu memperhatikan sejumlah risiko, termasuk volatilitas harga daging global, meningkatnya persaingan industri, kemungkinan perubahan kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan impor, dan ketahanan pangan.
Berdasar berbagai pertimbangan tersebut, SimInvest memulai cakupan terhadap saham BEEF dengan rekomendasi buy, dan target harga Rp235 per lembar sepanjang 12 bulan ke depan. Pada harga saham sekitar Rp158, target tersebut mengindikasikan potensi kenaikan sekitar 49 persen, dengan valuasi setara price-to-earnings (P/E) 11,1 kali untuk 2026, dan 10 kali untuk 2027. (*)
Related News
ASSA Jadwal Dividen 44 Persen Laba, Yield 7,8 Persen
DOSS Tebar Dividen Rp3 per Lembar, Intip Jadwalnya
IHSG Bergejolak Jumat Lalu (19/6) Dipicu Review MSCI
Tender Offer Rp520 Miliar, KETR Tegaskan Tetap Melantai di BEI
PALM Siap Tabur Dividen Rp50 Miliar, Cek Jadwal Cum Dividen
PNBN Bagi Dividen Rp1,01 Triliun, Cum Date 25 Juni 2026





