EmitenNews.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) akan merilis 81 emiten dari kalkulasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Terutama saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi alias high shareholding concentration (HSC). Periode efektif konstituen IHSG itu, akan berlaku sejak 2 November 2026 hingga 29 Januari 2027.

BEI mengungkap, saham masuk atau keluar HSC di luar periode evaluasi indeks akan segera disesuaikan pada IHSG. Sayangnya, BEI tidak memasukkan Hoffmen Cleanindo (KING) dalam daftar emiten yang dieliminasi dari perhitungan IHSG. Padahal, saham KING 98,40 persen dikuasai segelintir elit pemegang saham.

Ya, KING menyandang status HSC berdasar metodologi penentuan saham terkonsentrasi tinggi atas struktur kepemilikan saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat per 30 Juni 2026. Kemudian, KING ditetapkan berstatus emiten HSC pada 14 Juli 2026. Menariknya, KING juga tidak terdaftar dalam 837 konstituen IHSG. Lalu, kemana KING? 

Sekadar informasi, BEI mempertimbangkan meninjau ulang kriteria evaluasi IHSG atas sejumlah aspek. Salah satunya saham HSC. Ketentuan saham HSC diatur dalam dua aspek, pertama dalam kriteria seleksi. Sebelumnya saham masuk papan akselerasi tidak dihitung dalam IHSG. Kini, setelah disesuaikan, saham HSC juga masuk menemani saham-saham papan akselerasi.

Kemudian dari aspek evaluasi insidental, saham masuk atau keluar daftar HSC di luar peride evaluasi indeks, akan segera disesuaikan pada IHSG. Artinya, perubahan daftar HSC tidak akan terikat pada evaluasi terjadwal bursa, jadi sewaktu-waktu bisa terjadi penyesuaian dan otomatis memengaruhi perhitungan IHSG. Sebelumnya, BEI belum menetapkan aturan tersebut secara khusus.

Dengan demikian, tanpa KING berikut saham-saham keluar dari konstituen IHSG efektif 2 November 2026.

1. Akasha (ADES)

2. Asia Sejahtera (AGAR)

3. Samator Indo Gas (AGII)

4. Ancara Logistics (ALII)