EmitenNews.com - Analisis fundamental terhadap saham GOTO per Kuartal III 2025 menuntut pendekatan valuasi yang melampaui metrik mainstream seperti PER (Price Earning Ratio) dan PBV (Price Book Value). Mengingat perusahaan masih merugi di level laba bersih dan memiliki struktur aset yang didominasi aset tidak berwujud, fokus analisis beralih kepada nilai perusahaan secara keseluruhan, diukur melalui Enterprise Value (EV). 

EV, yang telah dihitung sebesar Rp 64,00 Triliun adalah nilai riil yang harus dibayar jika perusahaan diakuisisi, sekaligus mencerminkan posisi Kas Netto GOTO yang kuat. EV ini yang menjadi pembilang utama untuk menguji efisiensi pendapatan dan profitabilitas operasional.

Harga Pasar dan Devaluasi Ekspektasi

Pada penutupan bursa 2 Desember 2025, harga saham GOTO berada di kisaran Rp 65,00. Angka ini jauh terdevaluasi dari harga awal IPO-nya (338 per saham) dan mencerminkan koreksi besar-besaran pasar terhadap janji pertumbuhan growth stock di tengah kenaikan suku bunga global. Pergerakan harga dari IPO ke Rp 65,00 ini adalah manifestasi dari kegagalan valuasi berbasis janji (story-telling) dan transisi pasar menuju valuasi berbasis fundamental. Harga yang lebih rendah saat ini membuat valuasi GOTO—khususnya rasio EV/Revenue—menjadi lebih masuk akal, namun tetap menuntut bukti keras dari Adj. EBITDA dan FCF.

Apakah EV/Revenue GOTO Realistis?

Metrik pertama yang krusial adalah EV/Revenue TTM, yang menunjukkan valuasi GOTO relatif terhadap pendapatan tahunannya. Dengan total Revenue TTM sebesar Rp 17,55 Triliun, rasio EV/Revenue GOTO berada di angka 3,65 kali. Angka 3,65x menempatkan valuasi GOTO pada titik yang moderat. Ini mengisyaratkan bahwa pasar, yang telah menghukum harga saham GOTO (65 per saham), telah menghilangkan sebagian besar premium euforia teknologi masa lalu dan mulai menghargai perusahaan berdasarkan pendapatan aktual. Namun, validitas rasio ini sangat bergantung pada kemampuan GOTO mempertahankan Gross Margin yang kuat, yang membuktikan bahwa setiap Rupiah pendapatan yang dihasilkan GOTO adalah high-quality revenue dan efisien secara biaya pokok.

Mengapa Pasar Membayar Mahal Adjusted EBITDA GOTO

Tantangan dan peluang terbesar GOTO terekam dalam rasio EV/Adjusted EBITDA TTM. Setelah menghitung Adjusted EBITDA TTM sebesar Rp 1.794 Miliar—sebuah pencapaian profitabilitas operasional—rasio yang dihasilkan mencapai 35,67 kali. Kelipatan yang terbilang sangat tinggi ini adalah manifestasi konkret dari valuasi transformatif di tengah harga saham yang tertekan. Angka 35,67x bukanlah cerminan memadai dari kinerja operasional GOTO saat ini, melainkan sebuah premium signifikan yang dibayar pasar atas keyakinan bahwa Adj. EBITDA GOTO akan tumbuh secara eksplosif dan mencapai skala puluhan triliun dalam waktu dekat. Premi ini menuntut pemantauan ketat terhadap operating leverage dan pertumbuhan laba operasional dari kuartal ke kuartal.

Risiko dan Peluang Pemicu DCF

Pilar terakhir dan paling krusial dalam analisis ini adalah Free Cash Flow (FCF) TTM. Hasil perhitungan FCF TTM sebesar negatif Rp 3,64 Triliun menjadi pengingat kritis. FCF negatif mengkonfirmasi bahwa, meskipun GOTO telah mencapai profitabilitas di level operasional (Adj. EBITDA positif), perusahaan secara keseluruhan masih membakar kas setelah memperhitungkan investasi modal (Capex TTM).

FCF negatif ini adalah titik awal yang krusial untuk model Discounted Cash Flow (DCF). Nilai intrinsik GOTO sepenuhnya ditentukan oleh kecepatan transisi FCF dari negatif menjadi positif. Selama FCF tetap negatif, meskipun harga saham sudah turun ke Rp 65,00, risiko kebutuhan modal dan potensi dilusi saham tetap ada. Oleh karena itu, bagi investor jangka panjang, fokus utama harus bergeser dari profitabilitas akuntansi menuju pencapaian FCF Positif yang berkelanjutan, sebagai satu-satunya tolok ukur yang menciptakan kekayaan riil emiten ini.

Disclaimer: Tulisan ini bukan ajakan jual/beli, tapi bahan diskusi biar lo makin pinter atur strategi. Do Your Own Research (DYOR)!