Bidik Pasar Eskpor, INAF Teliti Kratom untuk Tingkatkan Nilai Tambah
:
0
Direktur Utama PT Indofarma (Persero) Tbk (INAF), Sahat Sihombing saat sesi doorstop dengan wartawan. Foto: EmitenNews/Wafi
EmitenNews.com - PT Indofarma (Persero) Tbk (INAF) membuka peluang memanfaatkan tanaman obat dari produk jamu menuju Obat Herbal Terstandar (OHT) hingga fitofarmatika. Peluang itu sekaligus menjadi target INAF untuk meningkatkan nilai tambah produk obat alam Indonesia atau natural medicine di global market.
Direktur Utama INAF, Sahat Sihombing menuturkan, salah satu tanaman yang saat tengah diteliti ialah kratom. Menurutnya, tanaman kratom dapat memiliki nilai tambah hingga ratusan kali dibandingkan hanya ekspor mentah.
“Saat ini, kan dieskpor mentah, harganya cuma 3,5 dolar per kilo. Kalau diproses menjadi produk yang bernilai tinggi, ya itu harganya bisa ratusan kali. Sekarang itu tumbuh di sepanjang sungai Kapuas di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur,” katanya usai mengikuti Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) di Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Sahat menambahkan, INAF juga telah bekerja sama dengan ITB, IPB hingga BRIN untuk mengoptimalkan hasil penelitian industri ke industri hingga pasar internasional. Menurut Sahat, target pasar terbesar ekspor saat ini adalah Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa.
Pasalnya, kekayaan biodiversitas Indonesia perlu dieksplorasi lebih terarah melalui riset berkelanjutan dan kolaborasi antara industri, perguruan tinggi, serta institusi penelitian.
“Untuk mengembangkan produk-produk seperti ini bagian dari hilirisasi sebetulnya. Tapi hilirisasi di produk Indonesia natural medicine atau tanaman obat alam Indonesia,” lanjut Sahat.
Dalam mendukung upaya hilirisasi riset tersebut, Indofarma memiliki kapasitas ekstraksi bahan alam serta fasilitas produksi obat tradisional yang telah tersertifikasi Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB).
Namun, di sisi lain, INAF juga perlu dukungan dari BPOM hingga BNN untuk mengolah tanaman kratom. Pasalnya penggunaan kratom tidak dapat digunakan secara sembarangan.
“Karena ini, kan produk-produk yang quote-unqoute berbatasan antara narkotika dan tidak gitu, loh. Sehingga perlu regulasi yang clear dari BPOM maupun dari BNN, di mana memang kami berharap Indofarma akan ditunjuk sebagai manufaktur yang secara khusus memproses natural medicine ini,” kata Sahat.
“Makanya, kami itu memiliki penelitian kan, kerja sama dengan ITB, kami punya system good manufacturin process yang bisa memproses itu secara safety dan aman untuk dikonsumsi oleh manusia,” tambahnya.
Related News
Raih Persetujuan PMTHMETD, Begini Rencana Besar Ultra Voucher (UVCR)
Pendapatan Lautan Luas (LTLS) Rp8,2T, Laba Bersih Meningkat 63,1%
Raup USD25,09 Juta, Laba Emiten Hapsoro Terbang 113,21% di Q3 2026
Di DTIIF, Telkom Luncurkan Pengembangan Sovereign Digital Technology
ELSA Perkuat Kontribusi Ketahanan Energi Lewat Inovasi Industri
Kredit Tumbuh 12,6 Persen, BBCA Kemas Laba Rp45,2 Triliun di Q326





