EmitenNews.com - Melampaui dominasi energi fosil yang selama ini menjadi tulang punggung, Grup Bakrie pada tahun 2026 mulai menyingkap tabir "mesin pertumbuhan baru" yang berfokus pada sektor mineral strategis dan teknologi masa depan. 

Fase ini menandai pergeseran paradigma dari industri komoditas volume tinggi ke arah nilai tambah (added value) yang lebih tinggi, di mana lonjakan harga emas dunia dan momentum elektrifikasi nasional menjadi angin buritan bagi ekspansi grup. 

Transformasi ini tidak hanya bertujuan untuk mendiversifikasi arus pendapatan, tetapi juga untuk mereposisi konglomerasi ini agar relevan dalam ekosistem ekonomi hijau global yang menuntut material kritis seperti tembaga dan solusi mobilitas rendah emisi. Melalui sinergi antara mineral berharga dan inovasi teknologi, babak baru ini menjanjikan profil risiko-imbal hasil yang jauh lebih menarik bagi para investor yang mencari pertumbuhan eksponensial.

Permata Mahkota dengan Efek Leverage Ganda

PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) kini telah menjelma menjadi permata mahkota baru dalam portofolio Grup Bakrie berkat kurva pertumbuhan produksi yang sangat agresif. Perusahaan saat ini berada di tengah fase ekspansi eksponensial dengan target produksi emas organik yang diproyeksikan menembus 80.000 troy ounce pada tahun 2026. 

Momentum ini terasa sangat tepat karena terjadi saat harga emas global bertahan di level historis tertingginya, yakni di atas US$ 2.600 per ounce, sehingga menciptakan efek leverage ganda terhadap laba bersih perusahaan. Namun, daya tarik utama BRMS di tahun 2026 sebenarnya terletak pada dimulainya operasi komersial Gorontalo Minerals (GM) di bulan Juni. 

Proyek ini bukan sekadar tambang biasa, melainkan aset dengan cadangan tembaga dan emas kelas dunia yang akan mengubah profil BRMS dari sekadar produsen emas murni menjadi pemain logam strategis. Dengan tembaga sebagai komponen kunci dalam transisi energi hijau, valuasi BRMS berpotensi mendapatkan scarcity value yang tinggi, didukung oleh proyeksi EBITDA yang melesat dan target harga saham konsensus yang kini mulai membidik level Rp500 per lembar.

Metamorfosis Darma Henwa dari Kontraktor Menjadi Pemilik Aset

Sementara itu, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) sedang menjalani transformasi fundamental yang mengubah model bisnisnya secara total dari sekadar perusahaan jasa kontraktor dengan margin tipis menjadi pemilik aset pertambangan yang bernilai tinggi. Strategi ini memungkinkan DEWA untuk menangkap nilai ekonomi penuh dari komoditas, terutama melalui kepemilikan mayoritas di Gayo Mineral Resources yang kaya akan emas dan tembaga di Aceh. 

Perubahan haluan ini semakin diperkuat dengan pengambilalihan operasional penuh tambang Bengalon di tahun 2026, yang memerlukan ekspansi tenaga kerja dan modal yang signifikan. Kesehatan finansial DEWA pun menunjukkan perbaikan drastis, yang dibuktikan dengan keberhasilan mengamankan fasilitas kredit senilai Rp1 triliun dari perbankan tier-1 seperti BCA. Kepercayaan dari institusi keuangan besar ini, ditambah dengan proses kuasi-reorganisasi untuk menghapus defisit masa lalu, memberikan sinyal kuat bahwa DEWA sedang mempersiapkan diri untuk kembali membagikan dividen di masa depan dengan proyeksi laba bersih yang tumbuh stabil di kisaran Rp503,2 miliar.

VKTR dan Masa Depan Elektrifikasi Komersial di Indonesia

Di lini teknologi, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) telah mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin pasar kendaraan listrik komersial berat di tanah air. Dominasi VKTR terlihat jelas dari keberhasilan mereka mengamankan kontrak pengadaan bus listrik untuk Transjakarta, di mana perusahaan unggul berkat Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) yang telah melampaui 40%. 

Keunggulan kompetitif ini semakin diperkuat dengan selesainya pabrik perakitan Completely Knocked Down (CKD) di Magelang yang memungkinkan efisiensi biaya dan percepatan distribusi unit. Tidak hanya bergantung pada proyek pemerintah (B2G), VKTR juga mulai merambah sektor swasta (B2B) melalui penyediaan truk listrik logistik dan bus karyawan untuk berbagai korporasi. Meskipun biaya ekspansi sempat menekan laba jangka pendek, pertumbuhan pendapatan yang konsisten dan pengakuan kontrak-kontrak besar di tahun 2026 memberikan prospek profitabilitas yang sangat positif, menempatkan VKTR sebagai pionir dalam rantai pasok mobilitas hijau di Indonesia.

Sebagai kesimpulan, investor perlu mencermati bahwa mesin pertumbuhan Grup Bakrie telah bergeser dari ketergantungan pada batubara menuju sektor mineral kritis dan teknologi hijau yang memiliki margin lebih tinggi dan prospek jangka panjang yang lebih berkelanjutan. Keberhasilan eksekusi operasional di Gorontalo Minerals oleh BRMS, kemampuan DEWA dalam mengelola aset tambang barunya secara mandiri, serta penetrasi pasar VKTR di sektor kendaraan listrik akan menjadi faktor penentu utama bagi re-rating valuasi grup ini di mata pasar modal sepanjang tahun 2026.

Baca Juga Rahasia Napas Panjang BUMI dan ENRG, Mengapa Batubara Tetap Tangguh?

Disclaimer: Artikel ini bertujuan untuk edukasi berbasis riset dan bukan merupakan rekomendasi investasi, sehingga segala keputusan serta risiko finansial sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi investor.