Buntuti Wall Street, IHSG Makin Agresif
:
0
Suasana penutupan perdagangan IHSG edisi 2025 di Main Hall Bursa Efek Indonesia. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street kompak ditutup menguat. Itu seiring peningkatan harga minyak mentah paska -serangan militer Amerika Serikat (AS) ke Venezuela, dan penangkapan presiden Nicolas Maduro. Serangan militer tersebut diyakini investor tidak memicu konflik geopolitik yang bisa memberi sentimen negatif pasar.
Saham sektor energi diuntungkan pembangunan kembali infrastruktur minyak Venezuela berhasil membukukan kenaikan cukup besar. Chevron, emiten paling diuntungkan karena sudah beroperasi di negara tersebut meroket 5,1 persen, dan disusul Exxon Mobile 2,2 persen. Emiten jasa minyak dan gas seperti Halliburton Co surplus 7,84 persen, dan Agilent Technolohies Inc naik 3,61 persen.
Penguatan mayoritas indeks bursa Wall Street, dan beberapa harga komoditas mineral logam seperti emas, tembaga, dan timah diprediksi menjadi sentimen positif pasar. So, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melanjutkan penguatan dengan kisaran support 8.770-8.680, dan resistance 8.950-9.040.
Menilik data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menyarankan para pelaku pasar untuk mengoleksi sejumlah saham berikut. Yaitu, Timah (TINS), Merdeka Gold (MDKA), Archi Indonesia (ARCI), Hartadinata (HRTA), Telekomunikasi Indonesia (TLKM), dan Bank Neo (BBYB). (*)
Related News
IHSG Siang (2/11) Berbalik Rebound 0,95% ke Atas Level 5.100
SMK Nusantara Pertahankan Gelar AXIS Nation Cup 2026
MSCI Masih Selimuti IHSG November 2026
HSC Resmi Didepak dari IHSG, Bursa Dibuka Terpangkas ke Bawah 5.000
Mengekor Wall Street, IHSG Tertekan
Tokenisasi Saham Ditolak 50 Emiten Global, Nvidia Ikut Menentang





