EmitenNews.com - Indeks acuan pasar saham Korea Selatan, KOSPI, mencatat penurunan tajam lebih dari 3 persen hingga menyentuh level kisaran 7.220 pada perdagangan hari Senin. Kemerosotan ini membalikkan tren kenaikan pada sesi sebelumnya, dipicu oleh eskalasi ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran serta lonjakan harga minyak mentah yang menekan selera risiko investor global.

Kondisi geopolitik semakin memanas setelah Teheran mengklaim telah menutup Selat Hormuz. Jalur laut tersebut merupakan jalur krusial bagi distribusi energi global, termasuk pasokan minyak mentah menuju kawasan Asia Tenggara seperti Indonesia. Kekhawatiran akan gangguan pengiriman komoditas energi langsung memicu aksi jual massal di pasar modal.

Aksi jual di bursa Seoul ini dipimpin oleh sektor teknologi. Saham SK Hynix anjlok signifikan sebesar 8,1 persen akibat langkah investor yang mengamankan keuntungan setelah debut perusahaan tersebut di pasar saham Nasdaq pada hari Jumat pekan lalu.

Analis pasar modal menilai penurunan dipicu oleh meredanya optimisme terhadap pendapatan jangka pendek perusahaan serta pertumbuhan pengiriman produk chip HBM4 yang berjalan lebih lambat dari perkiraan semula.

Kelemahan ini menyebar luas ke sejumlah saham raksasa teknologi dan industri Korea Selatan lainnya. Saham Samsung Electronics merosot 3,7 persen, sementara SK Square dan Samsung Electro-Mechanics masing-masing jatuh 10,2 persen dan 11,4 persen. Di sektor manufaktur berat, saham HD Hyundai Heavy Industries juga ikut tergerus sebesar 1,9 persen.

Secara keseluruhan, sentimen investor terhadap sektor semikonduktor Korea Selatan tetap rapuh, melanjutkan tren negatif setelah indeks KOSPI sempat turun hampir 8 persen pada pekan lalu.

Tekanan pada industri chip ini menjadi perhatian global karena negara-negara berkembang, termasuk Indonesia yang sedang berupaya membangun ekosistem digital dan manufaktur komponen elektronik, sangat bergantung pada rantai pasok semikonduktor global asal Korea Selatan.

Meski terjadi guncangan pasar, otoritas moneter setempat tetap memberikan pandangan optimistis terhadap prospek jangka panjang industri ini. Berdasarkan data yang dirilis Trading Economics, Bank Sentral Korea menyatakan bahwa siklus super chip yang didorong oleh perkembangan kecerdasan buatan (AI) masih tetap utuh. Pihak bank sentral menegaskan bahwa kondisi ini didukung oleh kendala pasokan yang sedang berlangsung serta kuatnya permintaan global terhadap produk chip memori canggih.(*)