Ketegangan AS-Iran Dongkrak Imbal Hasil Obligasi AS Hingga 4,59 Persen
:
0
Imbal hasil obligasi Treasury Amerika Serikat (AS) tenor 10 tahun melonjak hingga mencapai kisaran 4,59 persen pada hari Senin. (Dok)
EmitenNews.com - Imbal hasil obligasi Treasury Amerika Serikat (AS) tenor 10 tahun melonjak hingga mencapai kisaran 4,59 persen pada hari Senin. Lonjakan ini mendekati level tertinggi dalam tujuh minggu terakhir, yang digerakkan oleh eskalasi ketegangan militer antara AS dan Iran serta kekhawatiran inflasi global.
Kenaikan imbal hasil ini terjadi setelah aksi saling serang rudal terbaru antara AS dan Iran yang membuat harga minyak mentah dunia merangkak naik. AS melancarkan serangan keempatnya dalam sepekan terhadap Iran pada hari Minggu. Tindakan tersebut merupakan balasan atas serangan Iran terhadap kapal kontainer berbendera Siprus. Kenaikan harga komoditas energi ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), akan menaikkan suku bunga acuan demi menahan laju inflasi.
Bagi Indonesia, lonjakan imbal hasil obligasi AS dan potensi kenaikan suku bunga The Fed ini memberikan tekanan tersendiri. Situasi tersebut berpotensi mendatangkan aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan domestik dan menekan nilai tukar Rupiah, sehingga Bank Indonesia perlu mencermati pergerakan sentimen global ini.
Selain faktor geopolitik, para pelaku pasar saat ini tengah menanti rilis data inflasi penting AS yang dijadwalkan keluar minggu ini. Data tersebut diharapkan dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter AS ke depan. Berdasarkan data pasar saat ini, investor memproyeksikan The Fed akan menaikkan suku bunga satu kali lagi sebelum akhir tahun.
Sentimen pengetatan moneter ini juga diperkuat oleh rilis risalah pertemuan The Fed bulan Juni lalu. Dokumen tersebut menunjukkan bahwa beberapa pembuat kebijakan melihat adanya alasan kuat untuk menaikkan suku bunga, meskipun pada akhirnya mereka memilih untuk mendukung kebijakan mempertahankan suku bunga tetap tidak berubah.
Fokus pasar selanjutnya akan tertuju pada Kongres AS. Menurut data Trading Economics, Ketua Fed Kevin Warsh dijadwalkan untuk tampil pertama kalinya di hadapan Kongres AS pada hari Selasa dan Rabu untuk memberikan kesaksian yang sangat dinantikan oleh para pelaku ekonomi global.(*)
Related News
Harga Sawit Berjangka Naik, Pompa Optimisme Emiten
Rupiah Melemah ke Rp18.125 Imbas Ketegangan AS-Iran
Konflik AS-Iran Picu Inflasi Global, Emas Dunia dan Antam Turun Tajam
Bursa Saham Korea Selatan Anjlok 3 Persen Imbas Krisis Timur Tengah
Dolar Perkasa, Siap-Siap Rupiah Hadapi Tekanan Baru
Ketegangan AS-Iran Juga Picu Lonjakan Harga Bensin dan Minyak Pemanas





