EmitenNews.com - Harga emas dunia bergerak turun ke bawah level 4.100 USD per ons pada perdagangan hari Senin. Berdasarkan data dari Trading Economics, komoditas pelindung nilai ini berada di bawah tekanan setelah serangan rudal terbaru antara Amerika Serikat (AS) dan Iran justru mendorong harga minyak lebih tinggi, sehingga memicu ekspektasi kenaikan suku bunga global untuk mengekang inflasi.

Ketegangan militer ini memuncak saat AS melakukan serangan keempat dalam seminggu terhadap Iran pada hari Minggu. Tindakan Washington tersebut merupakan balasan atas serangan pihak Iran sebelumnya terhadap sebuah kapal kontainer yang berbendera Siprus.

Merespons situasi konflik ini, pihak Teheran menyatakan bahwa Selat Hormuz akan ditutup sampai pemberitahuan lebih lanjut. Walaupun demikian, klaim sepihak mengenai penutupan jalur maritim strategis tersebut segera ditolak oleh Komando Pusat AS yang menegaskan situasi sebaliknya.

Selain faktor geopolitik, para investor saat ini tengah menunggu rilis data inflasi penting AS yang dijadwalkan keluar pada minggu ini. Data tersebut dinilai menjadi petunjuk lebih lanjut mengenai prospek arah kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve.

Saat ini, pasar memperkirakan The Fed akan memberikan satu kali lagi kenaikan suku bunga acuan sebelum akhir tahun. Sementara itu, Ketua Fed Kevin Warsh juga dijadwalkan untuk tampil pertama kalinya di hadapan Kongres AS pada hari Selasa guna memberikan pandangan ekonominya.

Bagi Indonesia, penurunan harga emas global yang dibarengi dengan potensi kenaikan suku bunga AS ini perlu diwaspadai. Tekanan pada harga emas dunia biasanya memicu aksi ambil untung pada investasi emas domestik, seperti yang diproduksi oleh PT Aneka Tambang (Antam).

Di sisi lain, proyeksi kenaikan suku bunga The Fed juga berisiko memicu arus modal keluar dari pasar keuangan Indonesia dan memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam jangka pendek.(*)