Cuan Sewa Listrik Melesat 73%, India Jadi Tujuan Ekspor Terbesar AADI
:
0
Cuan Sewa Listrik Melesat 73%, India Jadi Tujuan Ekspor Terbesar AADI. Dok. Kontan
EmitenNews.com - Di balik ramainya tren transisi energi hijau yang kini dikejar oleh entitas induk lamanya, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) justru membuktikan bahwa bisnis warisan batu bara termal belum kehabisan napas. Sejak resmi dipisah (spin-off) dan melantai di bursa pada awal Desember 2024, AADI mengambil peran penting sebagai mesin pencetak uang tunai (cash cow).
Karakteristik bisnisnya yang sudah sangat matang membuat perusahaan tidak butuh pengeluaran investasi besar-besaran, sehingga arus kas bebasnya (Free Cash Flow) tetap kokoh. Posisi ini membuat saham AADI menjadi incaran para pemburu dividen atau investor yang mencari keuntungan rutin.
Laba Melaju Lebih Kencang dari Pendapatan
Secara keseluruhan, AADI membukukan pendapatan usaha sebesar USD 2,54 miliar pada paruh pertama 2026. Angka ini naik 6,13% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang berada di level USD 2,39 miliar. Namun, bintang utamanya justru ada pada kemampuan mencetak efisiensi. Laba kotor perusahaan berhasil melonjak 12,53% menjadi USD 782,7 juta, diikuti laba usaha yang naik 9,45% ke posisi USD 666,5 juta.
Disiplin mengelola pengeluaran ini mengalir deras hingga ke laba bersih yang mencapai USD 524,4 juta, atau tumbuh 8,97% dibandingkan tahun sebelumnya (year-on-year). Keberhasilan memangkas biaya operasional ini juga tercermin dari margin kotor (Gross Profit Margin) yang menebal ke 30,74% (dari 28,99%), serta margin laba bersih (Net Profit Margin) yang naik ke 20,60% (dari 20,06%). Di industri tambang yang padat modal, tingkat keuntungan bersih di atas 20% merupakan cerminan atas benteng pertahanan yang kokoh.
Baca Juga: Laba RANS Naik 11% Bukan karena Kenaikan Pendapatan, Dari Mana?
Permintaan Domestik dan Internal Grup Makin Sibuk
Bila kita bedah lebih dalam pada rincian pendapatannya, sumber pemasukan AADI mulai menunjukkan pergeseran tren yang menarik. Permintaan batu bara dari pihak luar (pihak ketiga) untuk pasar ekspor, yang selama ini jadi penyokong utama, sedikit melandai 2,03% menjadi USD 1,82 miliar. Sebaliknya, penjualan ke pasar domestik untuk pihak luar justru melesat tajam 16,49% menjadi USD 400,4 juta.
Yang lebih menarik, aktivitas jual-beli di dalam lingkaran grup Adaro sendiri (pihak berelasi) melonjak pesat. Penjualan batu bara domestik ke pihak internal ini meroket 76,08% menjadi USD 154,1 juta, dan penjualan ekspor ke sesama grup juga naik 41,44% menjadi USD 3,76 juta.
Angka-angka ini menjadi sinyal kuat bahwa rantai pasok di dalam grup perusahaan kini bekerja dengan kapasitas yang jauh lebih padat. Adapun pelanggan kelas berat dari pihak ketiga, seperti TNB Fuel Services Sdn. Bhd., tetap setia menyumbang transaksi terbesar (di atas 10% dari total pendapatan perusahaan), dengan nilai transaksi naik 4,87% menjadi USD 450,09 juta.
Related News
Singapura Jadi Pelanggan Terbesar ADRO, Disusul Jepang dan Korsel
Laba RANS Naik 11% Bukan karena Kenaikan Pendapatan, Dari Mana?
Punya 3%, Vanguard Kepincut Bisnis Suku Cadang Keluarga Hartono
Bertahan di MSCI, LQ45 & BISNIS-27, Sumber Cuannya Bukan Cuma SPBU
Cum Date 3/9/2026, Dividen Rp100 per Saham, Emitennya Bertahan di MSCI
Penjualan Emas Meroket 8 Kali Lipat, Laba BRIS Tembus Rp4,1 T





