EmitenNews.com - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) dikabarkan telah mengajukan minat untuk memiliki saham PT Bursa Efek Indonesia (BEI).

Senada, dengan Hasil risalah Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) BEI yang telah sepakat akan adanya demutualisasi BEI.

Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan proses demutualisasi tengah menunggu payung hukum dari Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK). Jeffrey juga menjelaskan akan adanya calon investor potensial terbaru selain Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan RI yakni, Danantara Indonesia.

"Terdapat investor potensial (Danatara) yang menyatakan minat untuk berinvestasi pada Bursa Efek Indonesia dalam rangka pelaksanaan demutualisasi Bursa sesuai UU,” ucap Jeffrey kala Konferensi Pers RUPSLB BEI, dihelat secara daring di Jakarta, Rabu (12/8/2026).

Managing Director Global Business Development, Corporate Finance & Investment Danantara, Djamal Attamimi kala ditemui Kamis (13/8) di Gedung BEI turut mengafirmasi isu keminatan investasi pada BEI tersebut.

Adapun, besaran persentase kepemilikan yang akan diambil Danantara nantinya masih akan melihat kebutuhan permodalan dan pengembangan infrastruktur bursa.

"Tapi nanti tentunya penentuan presentasinya itu juga melihat kebutuhan permodalan, pengembangan infrastruktur yang perlu dilakukan supaya kapitalisasi pasarnya bisa meningkat dengan membawa investor dari luar negeri lebih banyak dan juga dari partisipasi dari investor dalam negeri," ujar Djamal dalam konferensi pers, Rabu 13/8/2026.

Djamal juga menjelaskan bahwa dana yang akan disiapkan Danantara untuk pembelian saham Bursa akan tergantung pada valuasi dan persentase kepemilikan. 

Objektif utama Danantara, lanjutnya, adalah mendorong peningkatan kapitalisasi pasar Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Saat ini kapitalisasi pasar RI baru berada di kisaran 50-60% dari PDB, jauh di bawah Malaysia dan India yang sudah mencapai 100-120% dari PDB.

"Itu kan tentunya nanti tergantung juga dari valuasi dan persentase kepemilikannya. Tapi kita melihat objektif utamanya itu adalah bagaimana kita bisa meningkatkan kapitalisasi pasar terutama dibandingkan dengan GDP," katanya.