EmitenNews.com - Bukit Uluwatu Villa (BUVA) tengah bernegosiasi dengan Danayasa Arthatama mengenai penyelesaian perjanjian Build, operate & transfer (BOT) Hotel Alila SCBD. Itu menyusul keberatan Danayasa atas masuknya Alila Suites SCBD dalam aset anak usaha perseroan yaitu Bukit Lentera Sejahtera (BLS). Tersebab, perjanjian BOT Hotel Alila telah diakhiri oleh Danayasa. 


Pengakhiran itu, berdasar surat No. 0308/HKM-DIR/DA/X/2021 perihal Pemberitahuan Pemutusan Perjanjian BOT Hotel Alila tertanggal 18 Oktober 2021, dan telah diterima oleh BLS pada 18 Oktober 2021. Sekadar informasi, perjanjian BOT melibatkan perseroan, Danayasa Arthatama, Lentera Cemerlang Indah, dan Bukit Lentera Sejahtera (BLS). Itu tertuang dalam akta perjanjian pembangunan, pengelolaan, dan penyerahan kembali alias Build, Operate & transfer (BOT) Nomor 76 tanggal 10 Maret 2011.


Berdasar Perjanjian BOT, BLS berjanji, dan mengikat diri untuk membangun satu unit bangunan hotel di atas sebidang tanah hak guna bangunan terdaftar atas nama Danayasa seluas 5.065 meter persegi (m2). Jangka waktu pembangunan, pengoperasian, dan penyerahan kembali selama 25 tahun terhitung sejak tanggal terbit izin mendirikan bangunan atas proyek dan/atau selambat-lambatnya 6 bulan sejak 10 Maret 2011.


Perjanjian BOT dengan sendirinya akan berakhir kalau jangka waktu perjanjian BOT telah selesai, dan tidak dilakukan perpanjangan oleh para pihak dalam perjanjian BOT. Perjanjian BOT hanya dapat diakhiri sebelum jangka waktu perjanjian BOT apabila telah memperoleh persetujuan dari para pihak. Dalam hal terdapat keterlambatan penyelesaian pekerjaan melewati waktu selama 6 bulan oleh BLS, selain karena alasan force majeure, dan setelah Danayasa memberikan peringatan tertulis sebanyak 6 kali beruntun.


Di mana, masing-masing peringatan berlaku paling sedikit 14 hari kerja, dan BLS tidak mampu memulihkan peristiwa dimaksud, maka Danayasa berhak menunjuk pihak ketiga untuk menyelesaikan proyek atas biaya BLS atau memutuskan perjanjian BOT dengan pemberitahuan tertulis kepada BLS. 


Sehubungan dengan perkembangan pembangunan Alila Suites SCBD, alasan dapat diakhirinya perjanjian BOT secara sepihak oleh Danayasa adalah tidak sesuainya antara perkembangan pembangunan yang diperjanjikan dalam Perjanjian BOT dengan perkembangan pembangunan yang terjadi di lapangan. ”Oleh karena itu, saat ini perseroan bernegosiasi dengan Danayasa soal penuntasan perjanjian BOT tersebut,” tulis Benita Sofia, Sekretaris Perusahaan Bukit Uluwatu Villa. 


Pengakhiran perjanjian BOT itu, tidak berdampak material terhadap kelangsungan usaha perseroan. Pasalnya, kontribusi Alila SCBD terhadap pendapatan grup 13,58 persen, dan Alila SCBD masih membukukan kerugian sampai Juni 2023. Di sisi lain, per 30 Juni 2023, pinjaman perseroan dan entitas anak kepada pihak ketiga, dan lembaga perbankan mayoritas liabilitas jangka pendek Rp1,48 triliun alias 76,60 persen dari total liabilitas.


Mengatasi itu, perseroan telah menuntaskan private placement dengan skema konversi utang menjadi saham perseroan sejumlah Rp754,4 miliar. PT Nusantara Utama Investama menjadi eksekutor private placement menjelma sebagai pemegang saham perseroan. Selanjutnya, perseroan melakukan refinancing terhadap sisa pinjaman dengan durasi waktu lebih panjang. 


Menilik perkembangan terkini, perseroan secara umum melihat kondisi industri pariwisata, dan perhotelan bisa dikatakan sudah pulih setelah diterpa pandemi Covid-19 selama kurang lebih 3 tahun. Banyak wisatawan kala pandemi tidak dapat menikmati, dan mengundur liburan sampai situasi benar-benar aman. Perseroan juga sudah mampu memperbaiki fasilitas-fasilitas hotel maupun penggantian peralatan sebelumnya tertunda.


Secara berangsur, perseroan berusaha meningkatkan tarif kamar untuk beberapa segmen, dan mengevaluasi semua biaya operasional agar dapat seefisien mungkin dengan tujuan meningkatkan keuntungan. Fokus perseroan ke depan membidik pasar yang mampu membayar tarif kamar sesuai target, minimal mendekati tarif kamar sebelum pandemi, dan kalau memungkinkan, tarif kamar akan dinaikkan secara bertahap. Internal control, khususnya pengendalian biaya operasional (cost management) terus ditingkatkan. 


Saat ini tidak terlihat adanya penambahan jumlah hotel baru di luar hotel milik perseroan. Dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan khususnya ke Bali, dan jumlah room inventory di Bali tidak banyak bertambah, itu kesempatan bagi perseroan untuk membidik segmen wisatawan menengah ke atas. Indikator lain seperti kondisi keamanan Indonesia cukup kondusif juga akan berkontribusi pada perkembangan (growth) industri pariwisata, dan perhotelan saat ini. (*)