Dari Sopir Angkot jadi Taipan, Kisah Epik Prajogo Disapu Taifun MSCI
:
0
Dari Sopir Angkot jadi Taipan, Kisah Epik Prajogo Disapu Taifun MSCI. Image source: Digivestasi
EmitenNews.com - Dalam ilmu meteorologi, taifun dikenal sebagai siklon tropis intens yang terlahir di Samudra Pasifik Barat Laut. Fenomena ini membawa pusaran angin berkecepatan tinggi dan hujan deras yang sanggup memicu daya rusak destruktif bagi apa saja yang dilintasinya.
Analogi mengerikan inilah yang paling pas untuk memotret hantaman perombakan indeks global MSCI di bursa saham Tanah Air pekan ini. Bedanya, "Taifun" kali ini menyapu tanpa air, melainkan menguapkan kekayaan triliunan rupiah dalam sekejap mata.
Hantaman Taifun MSCI ini memakan korban kelas kakap. Tak tanggung-tanggung, Prajogo Pangestu, orang terkaya nomor satu di Indonesia, harus rela melihat hartanya tersapu hingga menguap sebesar USD1,8 miliar atau setara Rp31,49 triliun hanya dalam waktu semalam (kurs dolar AS Rp17.496 per penutupan perdagangan 13 Mei 2026)
Bagi publik, perjalanan Phang Djoen Phen yang kerap jadi idola investor lokal dengan sapaan Pak PP, dari seorang mantan sopir angkot di Kalimantan menjadi konglomerat energi dan petrokimia adalah kisah rags-to-riches yang legendaris.
Namun di pasar modal, kekayaan triliunan rupiah Pak PP mayoritas berbentuk paper wealth (kekayaan di atas kertas) yang sangat rentan terhadap fluktuasi sentimen asing, seperti yang baru saja menimpanya dampak rebalancing index MSCI.
Dari Sopir Angkot ke Puncak Takhta Konglomerat, sebuah Kisah Klasik Heroik
Untuk memahami seberapa besar epik kerajaan bisnis Prajogo Pangestu, kita harus melihat ke belakang. Lahir dengan nama Phang Djoen Phen di Bengkayang, Kalimantan Barat pada 13 Mei 1944, perjalanan hidup Prajogo adalah kisah rags-to-riches yang legendaris.
Di masa mudanya, ia pernah bertahan hidup dengan bekerja sebagai sopir angkot (minibus) sebelum akhirnya merantau ke Jakarta. Titik balik nasibnya terjadi ketika ia bergabung dengan perusahaan kayu Djajanti Group pada 1970. Berbekal pengalaman tersebut, pada akhir era 1970-an, ia memberanikan diri mendirikan kerajaannya sendiri: Barito Pacific.
Perusahaan yang awalnya menguasai hak pengusahaan hutan (HPH) ini kemudian bertransformasi dan berekspansi ke industri petrokimia (lewat Chandra Asri), pertambangan batu bara (Petrindo), hingga energi baru terbarukan (Star Energy/BREN).
Kesuksesan IPO perusahaan-perusahaannya di tahun 2023 membawanya menggeser dominasi Hartono Bersaudara dan Low Tuck Kwong, menjadikannya orang paling tajir di Republik ini. Namun, takhta di bursa saham itu kini sedang diuji hebat oleh badai dari investor global.
Related News
Dividen Jumbo Hasil Ngutang, Awas Kegocek Dividend Trap!
AMRT Turun Kasta Liga MSCI Padahal Free Float 41%, Ada Apa?
Bukan Saham Properti Biasa, Rahasia PWON Kuasai 4 Indeks Elit Bursa
20 Saham Dividen, Lebih Kebal saat Pasar Runtuh
Harta Karun SSIA di Subang Smartpolitan
SSIA Balik Arah, Penyelamat Margin Bukan Segmen Jasa Konstruksi





