Daya Tawar Lemah, Harga Baja HRC Indonesia Merosot ke USD515
:
0
Harga baja Hot Rolled Coil (HRC) flat Indonesia tertahan stabil di level USD515 per metrik ton FOB pada Selasa (13/10).(Foto: Stavian Metal)
EmitenNews.com - Harga baja Hot Rolled Coil (HRC) flat Indonesia tertahan stabil di level USD515 per metrik ton FOB pada Selasa (13/10). Posisi ini bertahan setelah harga sempat merosot sebesar USD10 per metrik ton dari level USD525 pada Jumat (9/10) menjadi USD515 pada Senin (12/10).
Berdasarkan laporan yang dirilis Shanghai Metals Market (SMM) pada Selasa (13/10), tekanan terhadap industri baja nasional meningkat seiring dengan munculnya laporan penawaran skala besar dari produsen baja asal Vietnam. Masuknya penawaran tersebut menambah ketat kompetisi pasar bagi pabrik baja di dalam negeri.
"Dengan permintaan keseluruhan yang masih lemah, pabrik baja kekurangan daya tawar yang cukup untuk mempertahankan harga," tulis SMM.
Di sisi lain, harga bahan baku HRC yaitu produk slab tercatat mengalami penurunan selama dua hari berturut-turut. Harga slab terkoreksi sebesar USD8 per metrik ton pada Senin (12/10) dan kembali turun USD2 per metrik ton pada Selasa (13/10) hingga menyentuh level USD480 per metrik ton FOB.
Penurunan harga bahan baku slab tersebut berpotensi memberikan tekanan penurunan lebih lanjut terhadap harga HRC domestik apabila penyerapan pasar dan permintaan industri tidak mengalami perbaikan.
Bagi industri manufaktur dan konstruksi di Indonesia, tren pelemahan harga produk baja hulu ini mencerminkan dinamika pasokan serta aktivitas penyerapan material di dalam negeri yang masih terbatas.
Perkembangan harga baja ini menjadi perhatian para pelaku pasar komoditas dan emiten manufaktur dalam mengantisipasi margin margin produksi serta pergerakan pasokan material impor.(*)
Related News
Suku Bunga AS Berpotensi Naik, Harga Emas Global Tahan Diri
I-EU CEPA dan 2 FTA Baru Siap Pacu Emiten Komoditas Berikut
Kilang Aramco Diserang, Harga Minyak Naik 5 Hari Beruntun
Perkuat Peran, Jasindo Lindungi 20.838 Aset Negara Berbasis Risiko
Peraih Nobel Beber Pelaku Usaha Indonesia Sulit Naik Kelas
IMF Proyeksikan Ekonomi Global 3,1%, Tekanan Energi Mengintai





