EmitenNews.com - Harga emas diperdagangkan mendekati level USD4.150 per ons pada Rabu (14/10). Pergerakan ini menahan penurunan setelah mengalami koreksi selama dua sesi berturut-turut, seiring sikap pelaku pasar yang menunggu rilis data inflasi konsumen Amerika Serikat (AS) untuk mendapatkan petunjuk arah kebijakan moneter Federal Reserve selanjutnya.

Pasar saat ini memperkirakan sekitar 77 persen kemungkinan bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuan tetap stabil pada bulan ini. Selain itu, pelaku pasar memperkirakan peluang sebesar 88 persen untuk kenaikan suku bunga pada bulan Desember mendatang.

"Satu kenaikan suku bunga tambahan mungkin diperlukan tahun ini, tetapi pengetatan moneter lebih lanjut kemungkinan tidak akan diperlukan pada tahun 2027," kata Presiden Federal Reserve New York, John Williams, sebagaimana dilaporkan Trading Economics pada Rabu (14/10).

Di sisi lain, ketegangan geopolitik tetap menjadi perhatian investor global setelah harga minyak mentah memperpanjang kenaikan akibat meningkatnya permusuhan antara Arab Saudi dan pemberontak Houthi di Yaman. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Secara terpisah, Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan adanya risiko signifikan terhadap pertumbuhan global dan stabilitas keuangan. Risiko tersebut bersumber dari potensi berakhirnya booming investasi kecerdasan buatan (AI), tingginya tingkat utang, serta konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

Bagi pasar keuangan Indonesia, pergerakan harga emas global serta ekspektasi pengetatan suku bunga The Fed ini berpotensi memengaruhi nilai tukar rupiah dan penetapan harga emas batangan domestik seperti Antam. Investor di dalam negeri cenderung mencermati rilis data inflasi AS serta perkembangan geopolitik untuk mengantisipasi gejolak pada aset aman.(*)