Di Ambang Delisting, Emiten BUMN Sakit Ini Unjuk Rapor Hijau
:
0
Di Ambang Delisting, Emiten BUMN Sakit Ini Unjuk Rapor Hijau. Dok. Investing.com
EmitenNews.com - Laporan keuangan Kuartal I 2026 PT Indofarma (Persero) Tbk (INAF) sekilas membawa angin segar dengan angka kerugian yang menyusut drastis. Namun, bagi pelaku pasar yang jeli, "perbaikan" di pos laba rugi ini hanyalah ilusi optik belaka. Di balik angka-angka tersebut, emiten farmasi pelat merah ini sebenarnya sedang beroperasi dalam kondisi sekarat alias insolven secara teknikal.
Waktu bagi INAF pun kian menipis. Memasuki bulan Juli 2026, suspensi saham perseroan tepat menyentuh batas kritis 24 bulan, yang berarti risiko pengusiran paksa (force delisting) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah berada di depan mata.
Kantong Kering, Utang Melilit: Tekor Ratusan Miliar
Jika membedah neraca keuangan INAF, kondisinya ibarat seseorang yang memiliki tagihan menggunung namun dompetnya kosong melongpong. Per 31 Maret 2026, defisiensi ekuitas (modal minus) perusahaan semakin dalam menjadi Rp(714,52) miliar. Secara absolut, total utang (liabilitas) jumbo sebesar Rp1,20 triliun sudah jauh melampaui seluruh harta (aset) perusahaan yang hanya tersisa Rp489,66 miliar.
Krisis likuiditas jangka pendeknya jauh lebih mengkhawatirkan. INAF hanya memegang aset lancar sebesar Rp75,92 miliar. Angka ini sangat timpang jika dibandingkan dengan kewajiban jangka pendek yang membengkak hingga Rp629,89 miliar.
Kewajiban jangka pendek ini paling banyak disumbang oleh dua pos. Utang pajak sebesar Rp318,25 miliar. Dan Pinjaman jangka pendek dari induk holding (PT Bio Farma) sebesar Rp248,78 miliar.
Struktur ini memperlihatkan bahwa napas operasional INAF saat ini murni bergantung pada "alat bantu" berupa utang dari induknya, tanpa ada modal bersih yang bisa dijadikan penyangga.
Plot Twist Perbaikan Laba: Berkah Pailitnya Sang Anak Usaha
Lantas, mengapa laporan laba rugi INAF di Kuartal I 2026 terlihat membaik? Penjualan bersih tercatat naik menjadi Rp53,32 miliar, laba bruto berbalik positif Rp4,74 miliar, dan rugi bersihnya menyusut signifikan dari Rp25,10 miliar menjadi tinggal Rp7,58 miliar. Bahkan, arus kas operasi (CFO) mampu berbalik positif Rp6,23 miliar.
Di sinilah letak plot twist-nya. Penurunan rugi bersih ini bukan karena obat-obatan INAF mendadak laris manis di pasar, melainkan dampak dari aksi akuntansi pasca-pailitnya anak usaha utama mereka, PT Indofarma Global Medika (IGM). Seperti diketahui, IGM resmi diputus pailit oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada 10 Februari 2025 setelah terjerat kasus kecurangan (fraud) hingga pinjaman online.
Related News
Masuk Radar Delisting BEI, Saham Eks Penguasa Esia Suspended 7 Tahun
Geber Likuiditas dan Free Float, Plot Twist DSSA Ubah Wajah di Bursa
Era Finfluencer Berakhir? OJK Resmi Atur Konten Keuangan, Ini Efeknya
Tembus Bursa Hong Kong, EMAS Anak Bontot Grup Merdeka Dual Listing
3 Tren Bisnis INDF & ICBP, Cara Grup Indofood Jaga Konsistensi Dividen
Kupas Tuntas Kasta Pasar Saham Dunia Ala MSCI





