EmitenNews.com - Bank Jago (ARTO) menutup tahun buku dengan narasi pertumbuhan laba yang mengesankan, namun data keuangan terbaru menyingkap adanya pergeseran struktural yang cukup menantang di balik layar. Meskipun bank mencatatkan pertumbuhan kredit yang agresif, mesin pertumbuhan ini menuntut "bahan bakar" yang semakin mahal, terlihat dari lonjakan biaya dana dan erosi pada bantalan modal. Investor kini dihadapkan pada dua realitas yang kontradiktif: sebuah bank yang sangat aman secara likuiditas jangka pendek, namun harus berjuang keras menjaga efisiensi margin dan stabilitas pendanaan jangka panjang di tengah ketidakpastian ekonomi makro.

Sentimen Pasar: Pesta di Puncak, Tapi ARTO Tidak Diundang

Fenomena "pesta semu" di pasar saham pada 3 Februari 2026 memberikan sinyal peringatan yang keras bagi pemegang saham Bank Jago. Saat IHSG naik ke level 8.122 pada perdagangan 3 Februari 2026 dengan nilai transaksi jumbo sebesar Rp29 triliun, likuiditas raksasa tersebut justru tidak mengalir ke sektor bank digital, melainkan tersedot habis ke sektor Hard Tech (Data Center/DCII) dan komoditas siklikal (Bumi Resources/BUMI) yang mendominasi daftar Top Movers

Absennya nama ARTO di tengah euforia ini mengonfirmasi bahwa saham tersebut mulai kehilangan relevansi di mata "Smart Money", terlebih ketika investor asing justru memanfaatkan momen kenaikan indeks ini untuk melakukan aksi jual bersih (Net Sell) senilai Rp833 miliar. Divergensi ini mengindikasikan bahwa kenaikan pasar saat ini berpotensi menjadi bull trap bagi saham-saham bervaluasi premium seperti ARTO yang ditinggalkan oleh rotasi sektor institusional.

Benteng Likuiditas yang Berbiaya Tinggi

Satu hal yang tidak perlu dikhawatirkan investor adalah keamanan uang di Bank Jago saat ini, karena bank ini membangun "benteng" likuiditas yang sangat tebal. Data Triwulan III 2025 menunjukkan Liquidity Coverage Ratio (LCR) ARTO berada di level fantastis 464,07%, jauh di atas batas minimum regulator sebesar 100%. LCR adalah indikator kemampuan bank membayar kewajiban jangka pendek saat krisis. Namun, angka setinggi ini bak pedang bermata dua di mana memiliki aset likuid berkualitas tinggi (High Quality Liquid Assets) hingga Rp6,03 triliun yang "menganggur" di instrumen berimbal hasil rendah seperti surat berharga pemerintah, berarti bank kehilangan peluang pendapatan yang lebih besar dari kredit. Manajemen tampaknya memilih postur ultra-defensif, mengorbankan potensi profitabilitas maksimal demi keamanan absolut.

Berakhirnya Era Dana Murah

Tantangan efisiensi mulai terlihat nyata ketika membedah struktur pendanaan per November 2025. Tesis investasi yang selama ini mengagungkan Bank Jago sebagai bank dengan dana murah (Low Cost of Fund) mulai teruji. Saldo Giro (Current Account), dana murah yang biasanya mengendap dari transaksi ekosistem tergerus menjadi Rp4,55 triliun. Untuk menambal likuiditas yang keluar ini, manajemen terpaksa agresif menghimpun Deposito Berjangka yang mahal, nilainya melonjak drastis mencapai Rp13,18 triliun. Pergeseran dari dana murah ke dana mahal ini menyebabkan beban bunga membengkak, yang secara langsung akan menekan Marjin Bunga Bersih (Net Interest Margin/NIM) perusahaan ke depannya.

Napas Pendek di Pendanaan Panjang

Ketimpangan struktur neraca semakin terlihat ketika kita melihat rasio jangka panjang. Berbeda dengan LCR yang sangat longgar, Net Stable Funding Ratio (NSFR), rasio yang mengukur ketersediaan pendanaan stabil untuk setahun ke depan tercatat "mepet" di angka 109,39%, hanya sedikit di atas ambang batas aman. 

Manajemen mengakui bahwa pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) kini lebih banyak ditopang oleh nasabah korporasi. Ini adalah risiko klasik, di mana dana korporasi cenderung bersifat transaksional dan sensitif terhadap suku bunga. Jika ARTO tidak menawarkan bunga deposito yang kompetitif, dana jumbo ini bisa pindah sewaktu-waktu, membuat struktur pendanaan jangka panjang menjadi rapuh.

Balapan Antara Risiko dan Modal

Di sisi lain, ambisi Bank Jago untuk tumbuh tercermin dari lonjakan Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) yang melesat 33,3% sepanjang tahun berjalan menjadi Rp20,1 triliun per September 2025. Sayangnya, pertumbuhan aset berisiko ini tidak dibarengi dengan pertumbuhan modal yang sepadan, di mana total modal justru stagnan di kisaran Rp6,6 triliun. 

Akibatnya, Rasio Kecukupan Modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) tergerus cukup dalam dari 44,40% di akhir 2024 menjadi 32,86%. Penurunan modal penyangga sebesar 11,5% dalam sembilan bulan adalah sinyal bahwa bank sedang "membakar" modalnya untuk memacu pertumbuhan, sebuah strategi yang tidak bisa dilakukan terus-menerus tanpa suntikan modal baru.

Pesan Tersirat dari Orang Dalam

Indikator terakhir yang paling valid untuk menilai kepercayaan terhadap valuasi perusahaan datang dari aksi korporasi internal. Pada 23 Januari 2026, Bank Jago mengumumkan hasil pelaksanaan program kepemilikan saham manajemen dan karyawan (MESOP). Hasilnya mengejutkan, tidak ada satu lembar saham pun (0 lembar) yang dieksekusi oleh manajemen maupun karyawan pada harga pelaksanaan Rp2.150. 

Dalam dunia investasi, ini sering dibaca sebagai sinyal bearish dari orang dalam. Jika pihak yang paling mengerti kondisi dapur perusahaan saja enggan membeli sahamnya sendiri di harga Rp2.150, hal ini memberikan pesan implisit kepada pasar mengenai pandangan mereka terhadap valuasi wajar perusahaan saat ini.