EmitenNews.com - Perjalanan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) sejak melantai di bursa pada 15 Januari 2009 adalah sebuah legenda hidup di pasar modal Indonesia. Jika kita menarik garis lurus dari harga IPO yang disesuaikan sebesar Rp39,5 hingga menyentuh angka Rp1.990 pada penutupan 14 Januari 2026, kita sedang membicarakan pertumbuhan fantastis lebih dari 5.039 persen atau lonjakan hingga 50 kali lipat yang telah memanjakan para pemegang saham jangka panjang. 

Namun, di balik angka-angka yang fantastis tersebut, tersimpan narasi fundamental yang mulai menunjukkan anomali tidak bisa diabaikan begitu saja. Dari kacamata riset, sang raksasa retail ini sedang terjebak dalam paradoks yang serius, di mana perusahaan semakin raksasa secara ukuran, namun secara mengejutkan menjadi semakin kurang menguntungkan bagi para pemiliknya.

Paradoks Pertumbuhan, Ketika Jualan Melambung Namun Laba Tercekik

Kinerja AMRT sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2025 sebenarnya tampak meyakinkan di permukaan, dengan pendapatan neto yang berhasil tumbuh 7,1 persen secara tahunan (Year-on-Year/YoY) menjadi Rp94,5 triliun. 

Angka ini sejatinya masih bernapas seirama dengan optimisme sektor ritel nasional yang terekam dalam Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia periode November 2025, di mana Indeks Penjualan Riil (IPR) tumbuh sebesar 6,3 persen. Bahkan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang menjadi tulang punggung kerajaan Alfamart mencatatkan pertumbuhan lebih tinggi dari rata-rata nasional, yakni sebesar 8,5 persen. 

Namun, di sinilah retakannya muncul secara nyata, karena di saat penjualan meningkat, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk justru merosot sebesar 3,5 persen. Fenomena ini bukan sekadar fluktuasi sesaat, karena jika kita menengok ke belakang pada laporan tahunan 2024, laba bersih setahun penuh juga sudah menunjukkan tren penurunan dari Rp3,40 triliun menjadi Rp3,15 triliun meskipun pendapatan tumbuh dua digit.

Negative Operating Leverage, Harga Mahal Demi Menjaga Takhta?

Anomali ini berakar pada apa yang didefinisikan sebagai negative operating leverage, di mana beban penjualan dan distribusi AMRT melesat hingga 10 persen (YoY), sebuah pertumbuhan biaya yang jauh melampaui kenaikan pendapatannya. Angka ini mencerminkan betapa mahalnya biaya yang harus dibayar Alfamart hanya untuk mempertahankan pangsa pasar grupnya yang kini mencapai 41,1 persen. 

Akibatnya, margin laba usaha pun terpaksa "berdarah," menyusut dari 3,52 persen menjadi 3,13 persen dalam setahun terakhir. Tekanan ini diprediksi akan semakin berat mengingat proyeksi Bank Indonesia yang menunjukkan lonjakan Indeks Ekspektasi Harga (IEH) pada Februari 2026 ke level 168,6 akibat ekspektasi kenaikan harga menjelang Ramadan. Dalam kondisi ini, AMRT berada di posisi sulit antara menaikkan harga jual yang berisiko mengusir konsumen yang sensitif harga, atau tetap menelan kenaikan biaya operasional yang akan terus menggerus laba bersih mereka.

Misteri Lawson dan Penyelamatan dari Wilayah Luar Jawa

Di tengah upaya efisiensi yang ketat, muncul sebuah misteri besar pada lini bisnis Lawson yang selama ini digadang-gadang sebagai mesin margin tinggi melalui produk siap saji (ready-to-eat). 

Data paparan publik mengungkapkan anomali luar biasa di mana jumlah gerai Lawson anjlok drastis dari 709 gerai di awal tahun 2024 menjadi tinggal 374 gerai di penghujung tahun yang sama. Kehilangan 335 gerai dalam setahun mengindikasikan adanya koreksi strategi yang masif atau penutupan paksa gerai yang tidak produktif akibat goyahnya daya beli kelas menengah. 

Beruntung bagi investor, AMRT memiliki "pelampung" di luar Pulau Jawa untuk menyeimbangkan keadaan. Saat pasar Jabodetabek sudah sangat jenuh dan hanya menghasilkan margin segmen sebesar 2,4 persen, wilayah Luar Jawa justru menjadi penyelamat dengan margin yang jauh lebih sehat di angka 5,4 persen. Keputusan manajemen untuk memindahkan titik berat pembukaan toko ke Luar Jawa, yang kini mencakup 35,1 persen dari total gerai, merupakan langkah krusial untuk menjaga napas profitabilitas perusahaan agar tidak terhenti sepenuhnya.

Valuasi Premium di Tengah Fundamental yang Menantang

Dari sisi arsitektur keuangan, AMRT sebenarnya memiliki struktur yang sangat tangguh dengan catatan nol saldo pinjaman bank jangka pendek per September 2025. Mereka dengan sangat cerdik memanfaatkan utang usaha kepada pemasok yang mencapai Rp13,1 triliun sebagai sumber pendanaan ekspansi tanpa bunga, sebuah kemewahan strategis yang jarang dimiliki oleh emiten lain. 

Namun, ketangguhan neraca ini nampaknya sudah dihargai terlalu optimis oleh pasar saat ini. Melalui perhitungan Discounted Cash Flow (DCF) dengan asumsi pertumbuhan pendapatan 7,5 persen dan WACC di level 10,5 persen, nilai intrinsik wajar saham AMRT sebenarnya berada di kisaran Rp1.864 per saham. Dengan harga pasar per 14 Januari 2026 yang bertengger di Rp1.990, saham ini sedang diperdagangkan dengan premi yang cukup tebal atau overvalued sekitar 6,7 persen. 

Valuasi yang saat ini berada di atas nilai wajar memberikan ruang gerak yang sangat sempit bagi kenaikan harga saham lebih lanjut, kecuali jika manajemen benar-benar mampu membuktikan bahwa mereka bisa tumbuh lebih efisien tanpa harus terus-menerus mengorbankan margin laba demi mengejar angka penjualan semata.