EmitenNews.com - Pembentukan klaster pangan sudah hampir rampung. Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) selaku kepala BUMN Pangan, Arief Prasetyo Adi mengungkap, proses perseroan Perum Perindo telah rampung. Bagusnya lagi, merger BUMN pangan tersebut sudah mendapat restu dari Presiden Joko Widodo.
"Update klaster pangan, proses perseroan Perum Perindo sudah selesai, kemudian merger saya dengar sudah ditandatangani Pak Presiden," kata Arief Prasetyo Adi pada peluncuran aplikasi Warung Pangan, Kamis (16/9/2021).
Setelah itu akan dilakukan proses inbreng saham untuk pembentukan holding BUMN pangan. Secara total, ada satu kepala dan delapan anggota holding BUMN pangan dengan total aset senilai Rp28 triliun.
Mereka adalah PT Berdikari (Persero), Perum Perikanan Indonesia Persero atau Perindo, PT Perikanan Nusantara (Persero) atau Perinus, dan PT Pertani (Persero). Kemudian, PT Sang Hyang Seri (Persero), PT Bhanda Ghara Reksa (Persero) atau BGR Logistics, PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) atau PPI, dan PT Garam (Persero).
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi dan Menteri BUMN Erick Thohir meresmikan tiga fasilitas pendingin klaster pangan BUMN dengan total investasi Rp10 miliar. Cold storage ini nantinya akan dipakai untuk menyimpan produk daging, sayur, dan buah-buahan.
Menurut Lutfi, rantai dingin tidak bisa dihindari oleh pelaku usaha pangan, termasuk BUMN. Ia menilai rantai dingin merupakan salah satu modal BUMN pangan dalam menghadapi tantangan memasok rantai makanan.
"Rantai dingin di Indonesia ini banyak sekali tantangannya karena dibilang 17 persen menurut studi di Indonesia (pangan) yang rusak karena rantai dingin tidak benar," kata mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal itu. ***
Related News
Purbaya: Lewat Batas, Anggaran Tak Terpakai, Kita Tarik atau Hangus!
Jelang Tutup Tahun, DJP Rilis Sudah 11 Juta WP Aktivasi Coretax
Harga Emas Antam Hari ini Tetap di Rp2.501.000 per Gram
Ekonom: Perlu Evaluasi Ulang Kebijakan Sebelum Implementasi B50
Menteri Rosan Ungkap, Realisasi Investasi 2025 Tembus Rp1.905 Triliun
BI Rate 2025 vs 2024, Bagaimana Arah Kebijakan Bank Indonesia di 2026?





