EmitenNews.com - Pada seri sebelumnya, kita sudah membahas bagaimana saham-saham yang rutin membagikan dividen bisa menjadi pelindung portofolio saat pasar sedang panik Baca Juga: 20 Saham Dividen, Lebih Kebal saat Pasar Runtuh. Namun, di pasar saham, tidak semua dividen itu sehat. 

Ada kalanya, persentase imbal hasil dividen (dividend yield) yang kelihatannya menggiurkan, misalnya di atas 10% bukanlah sebuah keuntungan, melainkan jebakan yang sengaja dirancang manajemen untuk menarik investor ritel pemula dan menempatkan modalnya.

Fenomena ini dikenal luas dengan istilah Dividend Trap atau jebakan dividen. Banyak investor tergiur memborong saham hanya karena mendengar pengumuman dividen besar. Sayangnya, begitu dividen selesai dibagikan, harga sahamnya langsung anjlok parah bahkan nilai penurunannya lebih besar dari dividen yang didapat dan harganya sulit bangkit lagi.

Mengapa pasar merespons seburuk itu? Karena investor institusi yang rasional tahu persis bahwa uang yang dibagikan tersebut bukan berasal dari keuntungan bisnis yang nyata, melainkan dari hasil menarik utang bank baru. Istilahnya, praktik "gali lubang tutup lubang" tingkat korporasi yang merusak kesehatan keuangan perusahaan.

Agar lebih mudah dipahami, mari kita gunakan ilustrasi kasus bisnis sederhana.

Studi Kasus Bisnis: Ilusi Laba dan Utang

Bayangkan sebuah perusahaan ritel pakaian, sebut saja PT Gaya Nusantara. Tahun ini, bisnis ritel sedang lesu. Penjualan mereka menurun dan laba bersih yang tercatat di laporan keuangan hanya Rp10 miliar. Buruknya lagi, karena banyak pelanggan grosir yang menunggak pembayaran, uang kas yang benar-benar masuk ke rekening perusahaan sebenarnya minus.

Namun, pemegang saham mayoritas (bos besar) sedang membutuhkan dana segar untuk proyek pribadinya di luar perusahaan. Akhirnya, manajemen memaksakan diri membagikan total dividen sebesar Rp15 miliar kepada seluruh pemegang saham.

Pertanyaannya, dari mana perusahaan mendapat selisih Rp5 miliar dan uang tunai untuk mentransfer dividen tersebut ke rekening investor?

Jawabannya, manajemen diam-diam mengajukan pinjaman baru ke bank sebesar Rp20 miliar dengan bunga pinjaman 10% per tahun.