EmitenNews.com - Resmi sudah PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Senin (25/5/2026). Perusahaan yang memiliki tugas khusus untuk mengelola ekspor komoditas sumber daya alam (SDA) strategis itu, dipimpin Luke Thomas Mahony, bule berpengalaman nan jago berbahasa Indonesia. Kehadirannya untuk memperkuat pengawasan ekspor, mencegah praktik manipulasi.

"Hari ini sudah menjadi BUMN, prosesnya harus ada 1% saham milik negara dengan kuasa khusus. Hari ini DSI sudah menjadi BUMN ya," ungkap Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara, Dony Oskaria di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (25/5/2026).

Skema ekspor yang akan dijalankan DSI masih dalam tahap finalisasi. Detail mekanisme kerja DSI akan disampaikan setelah seluruh proses penyusunan rampung.

Seperti sudah diungkapkan, DSI merupakan entitas usaha yang akan mengatur tata kelola ekspor komoditas SDA. Pembentukannya dikuatkan dengan terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) tentang Tata Kelola Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang ditandatangani Presiden Prabowo Subianto.

PP ini dibentuk dengan tujuan memperkuat pengawasan ekspor, mencegah praktik manipulasi seperti under invoicing dan transfer pricing, serta menekan pelarian devisa hasil ekspor (DHE).

Lewat kebijakan ini, ekspor komoditas strategis seperti minyak kelapa sawit, batu bara, hingga fero alloy wajib dilakukan melalui BUMN yang ditunjuk pemerintah.

Dirut PTDSI Bule Berpengalaman dan Fasih Berbahasa Indonesia

Sementara itu, Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anangata Nusantara (Danantara) menunjuk Luke Thomas Mahony sebagai Direktur Utama PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Perusahaan ini menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang khusus mengelola ekspor komoditas sumber daya alam (SDA).

CEO BPI Danantara, Rosan Perkasa Roeslani mengungkapkan, penunjukan Thomas didasarkan pada pengalamannya memimpin sejumlah perusahaan multinasional. Thomas sebelumnya sempat menjabat direktur di PT Vale Indonesia Tbk (INCO).

"Banyak pertimbangan, lebih dari track record-nya. Dia sangat memahami masalah, berpengalaman. Sebelumnya, baik di perusahaan multinasional, di Vale, dan dia bisa bahasa Indonesia, dan kebetulan istrinya memang orang Indonesia," urai Rosan Roeslani kepada pers, di Kompleks Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (22/52026).