EmitenNews.com - Bursa saham Wall Street melemah pada perdagangan Kamis akibat meredanya reli obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) serta lonjakan harga minyak dunia. Tekanan pasar terjadi setelah Presiden Donald Trump menegaskan komitmennya untuk melancarkan perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Iran.

Berdasarkan data pasar, tiga indeks utama Wall Street kompak terkoreksi. Indeks acuan melemah 0,9% ke level 7.641,66 poin, indeks saham teknologi terkikis 1% ke level 26.067,17 poin, dan indeks saham-saham unggulan merosot 1,3% hingga menyentuh 52.762,30 poin.

Laporan Investing.com mencatat sektor obligasi pemerintah AS kembali berada di bawah tekanan setelah aksi jual oleh para pedagang berlanjut. Sebelumnya, Departemen Keuangan AS mengumumkan kenaikan nilai pembelian kembali (buyback) utang jangka panjang dari USD2miliar menjadi setidaknya USD4miliar pada Rabu. Langkah intervensi ini sempat menurunkan imbal hasil (yield) dari rekor tertinggi dua dekade, sebelum akhirnya kembali melonjak pada Kamis.

Imbal hasil obligasi AS tenor 30 tahun naik 5,6 basis poin menjadi 5,250%. Aksi jual ini dipicu oleh rilis data terbaru yang menunjukkan total utang pemerintah AS telah melampaui angka USD40triliun, sehingga memperbesar kekhawatiran fiskal pasar global.

"Berita utama tentang utang fiskal memang nyata, tetapi ini adalah cerita yang bergerak lebih lambat daripada pergerakan satu hari pada obligasi pemerintah. Pasar telah menyerap narasi fiskal yang sulit sebelumnya tanpa hal itu menggagalkan tren yang lebih luas," kata Direktur Pelaksana dan Kepala Strategi Investasi di Pathstone, Michael McGowan.

Kondisi geopolitik dan ketidakpastian fiskal AS ini memberi sentimen lanjutan bagi pasar keuangan kawasan emerging markets, termasuk Indonesia. Kenaikan imbal hasil obligasi AS dan harga minyak berpotensi memicu tekanan balik pada pergerakan nilai tukar Rupiah serta Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).(*)