EmitenNews.com - Ekonom Universitas Paramadina, Dr Wijayanto Samirin, melihat rilis Morgan Stanley Capital International (MSCI) soal pasar modal Indonesia kebetulan hadir pada waktu yang tidak tepat.

"Ia datang ketika portofolio investasi di Indonesia negatif pada kwartal III 2025, 2026 minus 14 miliar USD. Sesuatu yang tidak pernah terjadi karena biasanya selalu positif," paparnya dalam Diskusi Panel "Prospek dan Arah Pasar Modal Indonesia Pasca MSCI dan Moody’s" yang digelar Universitas Paramadina di Jakarta, Rabu (18/2).

Rilis SMCI itu menyebabkan dana asing yang akan masuk menjadi ragu-ragu sementara dari dalam negeri, outflow semakin semangat untuk lari ke luar.

"Keriuhan di pasar modal sebetulnya hanya puncak gunung es dari soalan yang lebih besar di bawahnya. Harus diingat bahwa pasar modal merupakan standar regulasi dan implementasi yang paling tinggi dibanding sektor lain," katanya.

Ketika sektor pasar modal bermasalah maka hampir bisa dipastikan bahwa sektor lain lebih bermasalah. Celakanya, pasar modal Indonesia memiliki regulasi, tapi pelanggaran yang terjadi penegakan hukumnya masih tanda tanya besar.

Moody’s menurunkan outlook rating pasar modal Indonesia pada (05/02) akibat adanya sovereign selling. Ketika rating sovereign turun, maka seluruh financial asset termasuk saham korporasi di Indonesia juga turun, karena tidak mungkin rating Perusahaan tidak mungkin lebih tinggi dari rating Negara. Berikutnya ranking corruption index Indonesia juga turun dari 37 menjadi 34.

"Fokus Moody’s memang pada predictability kebijakan yang buruk. Lalu tata Kelola government yang buruk, dan risiko fiscal dan deficit APBN yang tinggi," tambah Wijayanto.

Menurutnya focus moody’s dan SMCI sebenarnya sudah dinarasikan pada 2- 3 tahun lalu. Sayangnya hal itu tidak mendapat respon cukup dari pemerintah.

"Pembelajarannya adalah, hendaknya sebelum diingatkan oleh Lembaga asing maka ada baiknya mendengar para ekonom kita yang sejak jauh hari sudah menyampaikan pandangannya.(*)