Ekonomi China Melambat, Imbal Hasil Obligasi Sentuh 1,73%
:
0
Imbal hasil obligasi pemerintah China bertenor 10 tahun merosot hingga ke level 1,73 persen pada Rabu (15/7), menyusul meningkatnya ekspektasi pasar terhadap stimulus baru untuk mengantisipasi perlambatan ekonomi.(Foto: South China Morning Post)
EmitenNews.com - Imbal hasil obligasi pemerintah China bertenor 10 tahun merosot hingga ke level 1,73 persen pada Rabu (15/7), menyusul meningkatnya ekspektasi pasar terhadap stimulus baru untuk mengantisipasi perlambatan ekonomi.
Menurut data dari Trading Economics, angka tersebut menandai level terendah dalam lebih dari dua minggu terakhir. Penurunan imbal hasil ini terjadi setelah pertumbuhan ekonomi China tercatat hanya mencapai 4,3 persen secara tahunan (year-on-year) pada kuartal kedua, yang menjadi laju terlemah sejak kuartal keempat tahun 2022. Realisasi pertumbuhan ini juga berada di bawah target resmi yang ditetapkan Beijing untuk tahun 2026, yakni pada kisaran 4,5 persen hingga 5,0 persen.
Tekanan terhadap ekonomi China diperparah oleh merosotnya investasi aset tetap sebesar 5,7 persen pada semester pertama tahun ini. Angka tersebut menunjukkan performa yang lebih buruk daripada ekspektasi pasar maupun realisasi pada periode Januari–Mei sebelumnya. Kondisi penurunan ini memicu proyeksi bahwa para pembuat kebijakan akan meningkatkan dukungan fiskal, termasuk mempercepat pengeluaran publik dan investasi infrastruktur, pada pertemuan Politbiro akhir bulan ini.
Meskipun terjadi perlambatan secara luas, beberapa indikator ekonomi utama bentukan Beijing menunjukkan tanda-tanda ketahanan. Produksi industri China naik ke level tertinggi dalam tiga bulan sebesar 5,3 persen pada bulan Juni. Pada saat yang sama, penjualan ritel mencatat pemulihan tak terduga menjadi 1 persen, dan tingkat pengangguran perkotaan turun ke level terendah dalam satu tahun terakhir di posisi 5,0 persen.
Bagi pasar keuangan Indonesia, dinamika ini menjadi sentimen penting mengingat posisi China sebagai salah satu mitra dagang terbesar dan investor utama di dalam negeri, di mana kebijakan stimulus Beijing kerap memengaruhi pergerakan harga komoditas global dan aliran modal ke pasar berkembang.
Indikator Ekonomi China Kuartal II-2026:
Imbal Hasil Obligasi 10 Tahun: ~1,73% (Terendah dua minggu)
Pertumbuhan Ekonomi (Q2): 4,3% (Target Beijing: 4,5%–5,0%)
Investasi Aset Tetap: Turun 5,7%
Produksi Industri (Juni): Naik 5,3% (Tertinggi 3 bulan)
Tingkat Pengangguran Perkotaan: 5,0% (Terendah 1 tahun).(*)
Related News
PT Toba Pulp Lestari Tbk (INRU) Jelaskan Dugaan Transfer Pricing
Bakal Pimpin Bursa Mineral dan Komoditas Strategis, Ini Profil Sarjito
ESDM Dorong Panas Bumi jadi Sumber Energi Strategis, Potensi 30 GW
Seabad Panas Bumi RI, Target Realisasi PNBP Tahun Ini Rp2,6 Triliun
BI Sebut Prospek Ekonomi Global Masih Lemah, Begini Nasib RI
Investasi Naik, BI Proyeksikan Ekonomi Bisa Tumbuh 5,7%





