EmitenNews.com - Harga emas dunia melesat ke kisaran USD 4.050 per ons pada Rabu (15/7) setelah data inflasi Amerika Serikat yang melambat mendorong spekulasi penurunan agresivitas suku bunga The Fed.

Tingkat inflasi tahunan AS seperti dilaporkan Trading Economics melambat menjadi 3,5% pada Juni, turun dari 4,2% pada Mei. Angka ini berada di bawah perkiraan pasar sebesar 3,8% karena penurunan harga minyak membantu meredakan inflasi sektor energi. Secara bulanan, harga konsumen juga menyusut 0,4%, menandai penurunan indeks bulanan pertama sejak tahun 2020.

Data inflasi yang mendingin ini langsung memicu respons positif di pasar komoditas. Emas berhasil mempertahankan kenaikan lebih dari 1% yang dibukukan pada sesi perdagangan sebelumnya. Para pelaku pasar modal dan investor komoditas merespons tren ini dengan mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Sementara itu, Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan kembali komitmen bank sentral untuk memulihkan stabilitas harga dalam kesaksiannya di Kongres pada hari Selasa. Meski demikian, Warsh menahan diri untuk tidak memberikan sinyal kebijakan moneter yang lebih agresif. Sikap ini memberikan sentimen positif tambahan bagi pergerakan harga emas sebagai aset pelindung nilai (*safe haven*).

Namun, volatilitas pasar diprediksi masih akan tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan. Pasar saat ini terus memperkirakan sekitar 50% kemungkinan kenaikan suku bunga Fed pada pertemuan bulan September mendatang.

Ketidakpastian ini dipicu oleh kembali meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran. Konflik tersebut berpotensi mengerek kembali harga minyak dunia, yang pada akhirnya membuat kekhawatiran inflasi tetap menjadi perhatian utama para investor di pasar global.(*)