Ekonomi RI Positif, 90% Produk RI Berpotensi Bebas Tarif ke Uni Eropa
:
0
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Economic Update CNBC Indonesia, Senin (29/06).(Foto: Ekon)
EmitenNews.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan perekonomian nasional masih berada dalam jalur yang positif di tengah ketidakpastian ekonomi global. Sejumlah indikator makroekonomi menunjukkan kinerja yang tetap kuat.
“Kita juga menjaga inflasi, inflasi kita di bulan Mei ini sekitar 3%. Kemudian juga kita bisa menjaga domestic demand di mana indeks keyakinan konsumennya masih di atas 100 bahkan 120. Kemudian kita menjaga juga dari segi neraca perdagangan, ini sekarang tren-nya positif di USD0,09 miliar di bulan April ini. Nah, kemudian kita lihat juga PMI S&P dari segi manufaktur masih di angka 50, jadi relatif baik. Kemudian cadangan devisa Mei ini sekitar USD144,9 miliar. Jadi relatif perekonomian masih dalam track yang positif,” ujar Airlangga dalam acara Economic Update CNBC Indonesia, Senin (29/06).
Data pertumbuhan juga mendukung pernyataan tersebut. Pada triwulan I Tahun 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% secara tahunan. Angka ini melampaui berbagai proyeksi lembaga internasional dan tetap berada di atas rata-rata pertumbuhan negara-negara ASEAN.
Untuk memperkuat daya beli dan aktivitas ekonomi pada Semester II 2026, Pemerintah meluncurkan stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun. Paket itu meliputi bantuan pangan beras bagi 33,24 juta keluarga penerima manfaat selama tiga bulan, bantuan SPHP kedelai untuk pelaku usaha tahu dan tempe, diskon transportasi udara, kereta api, dan angkutan laut kelas ekonomi, serta insentif konsumsi saat libur sekolah hingga Natal dan Tahun Baru.
Di sisi ketenagakerjaan, Pemerintah menyiapkan program magang nasional bagi generasi muda mulai Juli 2026. Program enam bulan ini memberi pengalaman kerja di industri, jasa, dan ekonomi digital dengan insentif dari Pemerintah. Bersamaan dengan itu, disiapkan pula program vokasi dan reskilling bagi sekitar 220 ribu lulusan SMK untuk meningkatkan keterampilan dan memperluas akses kerja, termasuk ke pasar internasional.
90% Produk RI Bebas Tarif ke Uni Eropa
Salah satu penguatan daya saing datang dari jalur diplomasi ekonomi. Pemerintah menyelesaikan perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) yang ditargetkan dapat diratifikasi tahun ini.
“Melalui perjanjian tersebut, sekitar 90 persen produk Indonesia berpotensi memperoleh tarif masuk nol persen ke pasar Uni Eropa,” ujar Airlangga.
Selain IEU-CEPA, Indonesia juga terus memperkuat keterlibatan dalam CPTPP dan proses aksesi ke OECD. Langkah ini diharapkan memperluas akses pasar ekspor, meningkatkan daya saing nasional, serta memperkuat kualitas kebijakan ekonomi domestik.
Untuk transformasi jangka panjang, Pemerintah tengah menyiapkan pembentukan financial center di Bali lewat kerangka regulasi khusus yang dibahas bersama parlemen. Pengembangan ekonomi hijau juga didorong melalui proyek energi bersih berbiaya JETP, termasuk geothermal dan waste-to-energy.
Related News
Inflow USD9 Miliar Masuk SBN Pasca BI Rate Naik 100 Bps
Rupiah Pagi Ini Bergerak di Kisaran Rp17.800 per Dolar AS, Cek Datanya
Said Iqbal: Pemerintah Lakukan Mitigasi Agar PHK Tidak Meluas
Yen Dekati Level Terendah Dalam Empat Dekade, Apa Dampaknya Bagi Kita?
Harga Energi Global Melonjak Imbas Eskalasi Konflik di Timur Tengah
Penjualan Ritel Jepang Tumbuh 5,3 Persen, Tertinggi Sejak 2023





