Ekonomi Tumbuh Sesuai Harapan Pasar, Waspadai Kontraksi PMI Manufaktur
:
0
Ilustrasi aktivitas pekerja di sebuah pabrik (foto: magnific.com)
EmitenNews.com -Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 tampil solid, namun bayang-bayang pelemahan sektor riil mulai sulit diabaikan. Indeks PMI manufaktur yang turun ke level 49,1 dinilai menjadi sinyal awal adanya tekanan di sisi produksi, di tengah kenaikan biaya input dan gangguan rantai pasok.
Di saat yang sama, data resmi menunjukkan ekonomi nasional masih tumbuh kuat. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan produk domestik bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,61% secara tahunan (yoy) pada kuartal I-2026, sedikit di atas ekspektasi pasar.
Dari sisi lapangan usaha, BPS mencatat sektor akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 13,14%, mencerminkan kuatnya konsumsi selama momentum Ramadan dan Lebaran. Sementara dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah melonjak 21,81% yoy.
Namun, jika ditarik secara kuartalan, ekonomi justru mengalami kontraksi 0,77% (qoq). Sektor pertambangan dan penggalian mencatat penurunan terdalam sebesar 8,20%, sedangkan konsumsi pemerintah terkontraksi 30,13% dibanding kuartal sebelumnya.
Laporan riset Lotus Andalan Sekuritas, Selasa (5/5/2026) menilai fundamental makro Indonesia masih relatif tangguh dan mampu menahan volatilitas jangka pendek. Surplus neraca perdagangan yang berlanjut selama 71 bulan mencerminkan ketahanan sektor eksternal, sementara inflasi April yang lebih rendah dari ekspektasi menunjukkan tekanan harga masih terkendali.
Konsensus pasar juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi tetap berada di kisaran 5,4% yoy, ditopang konsumsi musiman. "Namun, kontraksi PMI manufaktur menjadi catatan penting karena berpotensi menandakan perlambatan aktivitas industri ke depan," tulis tim riset Lotus dalam laporan tersebut.
Merespons hal tersebut, tim riset Lotus Andalan Sekuritas memproyeksikan IHSG akan bergerak sideways pada perdagangan hari ini.
Senada, pengamat komoditas dan pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, kinerja neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus, yang sedikit menahan tekanan terhadap rupiah. Namun, indikator manufaktur menunjukkan pelemahan, tercermin dari Purchasing Managers Index (PMI) yang berada di bawah level 50, menandakan kontraksi sektor industri.
Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan pada aktivitas produksi akibat mahalnya bahan baku impor serta gangguan pasokan global.
Ibrahim juga mengingatkan, kenaikan harga minyak berpotensi memperlebar defisit anggaran pemerintah yang diperkirakan mendekati batas 3 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Related News
Era AI Trading, IPOT Sodorkan UI/UX Berbasis AI Real Time
IHSG Melenggang di Sesi I (5/5) Balik ke Level 7.000
Penjualan Toyota Motor Pada Maret 2026 Susut 5,8 Persen
Kemenperin Siapkan Insentif Bentengi Industri Dari Gejolak Geopolitik
Dibuka Loyo, IHSG Pagi bergerak Volatil
Konflik Memanas, Laju IHSG Tersendat





