Emas hingga Minyak Berpotensi Fluktuatif Pekan Ini, Apa Penyebabnya?
:
0
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi. Foto: Istimewa
EmitenNews.com - Pergerakan pasar komoditas global diperkirakan akan bergerak fluktuatif sepanjang pekan ini, dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik hingga arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS).
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan sejumlah indikator global menunjukkan potensi volatilitas yang tinggi, terutama pada harga emas, minyak mentah, dan indeks dolar AS.
“Isu geopolitik, kebijakan bank sentral, hingga dinamika supply dan demand menjadi faktor utama yang mempengaruhi pergerakan pasar saat ini,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, dikutip Senin (27/4/2026).
Dari sisi indeks dolar AS, pergerakan diperkirakan berada di kisaran support 96,600 dan resistance di level 102,500. Sementara harga minyak mentah (crude oil) diproyeksikan bergerak di area support 82,600 dan resistance 107,400.
Adapun untuk harga emas dunia, tercatat ditutup di level 4.708 dolar AS. Dalam jangka pendek, emas diperkirakan memiliki level support di 4.651 dolar AS hingga 4.520 dolar AS.
Sejalan dengan itu, harga emas batangan di dalam negeri diproyeksikan berada di kisaran Rp2.800.000 hingga Rp2.790.000 per gram jika terjadi pelemahan. Namun, jika harga emas menguat, maka berpotensi naik ke level 4.779 dolar AS atau setara Rp2.865.000 per gram, bahkan berpeluang mencapai Rp2.980.000 per gram.
Menurut Ibrahim, salah satu faktor utama yang mempengaruhi pergerakan emas dan komoditas lainnya adalah ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait konflik antara AS dan Iran di kawasan Selat Hormuz.
Ia menyebut, situasi saat ini masih belum stabil, di mana AS mendorong pertemuan lanjutan, namun di sisi lain juga meningkatkan tekanan militer. Sementara Iran menolak perundingan karena menilai adanya pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan AS.
“Situasi akhir April ini cukup krusial, apakah akan mengarah ke perdamaian atau justru eskalasi konflik menjadi perang,” jelas Ibrahim.
Ketegangan di Selat Hormuz juga dinilai berpotensi mengganggu pasokan energi global, yang pada akhirnya berdampak pada harga minyak dunia dan mendorong sentimen terhadap aset safe haven seperti emas.
Related News
Yuan Hari Ini Menguat 95 Poin Terhadap Dolar AS
Giliran BRIN Kembangkan Petasol, Bahan Bakar Dari Sampah Plastik
Harga Emas Antam Senin Ini Turun Rp16.000 Per Gram
Pemerintah Bidik Rp36 Triliun Dari Lelang SUN Selasa Besok
World Gold Council: Emas Bisa Perkuat Dana Haji, Tapi Masih Diabaikan
Bank Sentral Global Ramai-ramai akan Putuskan Suku Bunga Pekan Ini





