Emas Tak Beri Imbal Hasil, Investor Beralih ke Obligasi, HPE Turun
:
0
Fenomena peralihan aset ini menekan permintaan emas dunia dan memicu koreksi Harga Patokan Ekspor (HPE) emas Indonesia periode 1–14 Agustus 2026. (Ilustrasi: Magnific)
EmitenNews.com - Kebijakan suku bunga tinggi global dan lonjakan imbal hasil obligasi membuat investor berpaling dari komoditas emas yang tidak memberikan imbal hasil berkala. Fenomena peralihan aset ini menekan permintaan emas dunia dan memicu koreksi Harga Patokan Ekspor (HPE) emas Indonesia periode 1–14 Agustus 2026 menjadi USD 130.921,50 per kilogram, turun 0,7 persen dari periode sebelumnya.
Penurunan ini juga menyeret Harga Referensi (HR) emas menjadi USD 4.072,12 per troy ounce dari sebelumnya USD 4.100,67 per troy ounce. Ketentuan ini tertuang dalam Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 1669 Tahun 2026 tentang Harga Patokan Ekspor dan Harga Referensi atas Produk Pertambangan yang Dikenakan Bea Keluar.
Perubahan perilaku investor global ini menjadi sinyal penting bagi pasar keuangan domestik, termasuk pergerakan harga jual dan buyback emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam). Bagi investor ritel di Indonesia, situasi ini memperjelas dinamika persaingan antara aset aman tanpa bunga (non-yielding asset) seperti emas dengan instrumen pendapatan tetap (fixed income) di saat tren suku bunga tinggi masih bertahan.
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Tommy Andana mengonfirmasi bahwa tidak adanya imbal hasil berkala pada emas menjadi pemicu utama investor mengalihkan dananya ke instrumen lain.
"Penurunan HPE dan HR emas terjadi akibat menguatnya nilai tukar mata uang utama global serta meningkatnya imbal hasil obligasi di pasar internasional. Kemudian, kebijakan suku bunga yang masih berada pada level tinggi turut menekan harga emas karena emas tidak memberikan imbal hasil berkala, sehingga investor beralih ke instrumen lain dengan risiko dan keuntungan yang lebih terukur," jelas Tommy.
Tommy menambahkan, peralihan investasi tersebut berdampak langsung pada menurunnya permintaan emas di pasar global. Di sisi lain, pasokan emas dunia yang tetap memadai menciptakan tekanan yang memicu koreksi harga di pasar internasional.
Penetapan HPE dan HR emas ini dilakukan melalui koordinasi lintas kementerian berbasis data teknis dari Kementerian ESDM yang mengacu pada publikasi London Bullion Market Association (LBMA).(*)
Related News
Cegah Anjlok, AS dan Jepang Kompak Intervensi Pasar Yen
Rebound! PMI Manufaktur RI Capai ke 50,2, Tertinggi Dalam 5 Bulan
Jepang-AS Kompak Borong Yen di Pasar, Pertama Dalam 15 Tahun
BI Sebut Pertumbuhan Ekonomi di Daerah Tetap Baik, Ini Pendorongnya
Redam Volatilitas, 4 Saham Energi Global Jadi Opsi Investor
Trump Batal Serang Iran, Harga Minyak Anjlok 4 Persen





