Emiten Operator Bus Tije Dicap HSC, Digembok BEI, Kena Notasi C Pula
:
0
Emiten Operator Bus Tije Dicap HSC, Digembok BEI, Kena Notasi C Pula. Dok. Steady Safe Tbk
EmitenNews.com - PT Steady Safe Tbk (SAFE) menghadapi tekanan berlapis di pasar modal setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) resmi mengumumkan emiten sektor transportasi darat ini masuk dalam daftar Kepemilikan Saham Terkonsentrasi Tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) per 2 September 2026.
Status baru ini melengkapi rentetan sentimen negatif yang menimpa emiten berkode saham SAFE tersebut, mulai dari penghentian sementara perdagangan (suspension) di level Rp875 per lembar saham, hingga kepemilikan Notasi Khusus "C" akibat sengketa hukum bernilai puluhan miliar rupiah.
Profil Bisnis Inti dan Rapor Keuangan Semester I-2026
Di balik pusaran sentimen administratif dan sengketa hukum bursa, bagaimana profil operasional dan fundamental emiten pengangkut penumpang ini?
PT Steady Safe Tbk merupakan perusahaan publik yang menjalankan bisnis inti di bidang pelayanan jasa transportasi darat, dengan fokus utama bertindak sebagai operator bus Transjakarta di wilayah Jakarta.
Meskipun perseroan memiliki sejumlah entitas anak yang bergerak di lini taksi dan pembiayaan kegiatan usaha, sebagian besar anak usaha tersebut tercatat dalam kondisi tidak beroperasi aktif (inactive), sehingga struktur pendapatan konsolidasian sangat bergantung penuh pada lini operasional busway.
Berdasarkan Laporan Keuangan Konsolidasian Interim untuk periode yang berakhir pada 30 Juni 2026, SAFE sebenarnya masih mampu mencatatkan kinerja operasional yang menghasilkan laba, meski dihadapkan pada tekanan marjin profitabilitas:
- Pendapatan Usaha Bersih
Tercatat stabil di angka Rp108,69 miliar pada semester I-2026, turun tipis -0,10% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan Rp108,80 miliar pada periode yang sama tahun 2025. Kontribusi piutang usaha pihak ketiga terbesar bersumber dari PT Transportasi Jakarta sebesar Rp14,47 miliar.
- Tekanan Laba Bersih
Laba bersih tahun berjalan terkoreksi 34,42% menjadi Rp14,13 miliar dibanding Rp21,54 miliar pada semester I-2025. Penurunan ini terutama dipicu oleh kenaikan beban langsung serta lonjakan beban usaha—khususnya pos jasa profesional yang melonjak signifikan dari Rp536,6 juta menjadi Rp4,54 miliar—sehingga laba per saham dasar (EPS) berada di level Rp22,96.
- Likuiditas dan Posisi Keuangan
Posisi kas dan setara kas terpantau menguat 55,6% menjadi Rp36,46 miliar per 30 Juni 2026 dari Rp23,43 miliar pada akhir Desember 2025, didukung oleh penempatan deposito di Bank Mayapada. Total liabilitas berhasil ditekan turun sekitar 10,4% menjadi Rp122,21 miliar, sementara ekuitas neto berbalik positif di angka Rp77,21 miliar. Kendati demikian, di dalam pos liabilitas jangka pendek tercatat kewajiban utang senilai Rp80 miliar kepada PT Wijaya Karya Realty Tbk yang berkaitan langsung dengan sengketa hukum berjalan.
Related News
Bisnis Sewa Genset Meroket 1.574%, Begini Rapor Perdana BACH Pasca-IPO
Adu Taktik 4 Big Banks, Siapa Paling Jago Cetak Cuan?
Lonjakan Pendapatan BNBR 45% Belum Cukup Lepas dari Tekanan Rugi
Penjualan EV VKTR Naik 1.777%, Mitsubishi Fuso Berkontribusi Besar
Kantongi USD 30,7 Juta, ADMR Kembali Tembus Pasar Jepang
Laba Tumbuh Berkat UMKM, Risiko Kredit Korporasi Membayangi BBRI





