Adu Taktik 4 Big Banks, Siapa Paling Jago Cetak Cuan?
:
0
Adu Taktik 4 Big Banks, Siapa Paling Jago Cetak Cuan? Dok. CNBC Indonesia
EmitenNews.com - Melewati pertengahan tahun 2026, empat bank terbesar di Indonesia kembali memamerkan rapor keuangannya. Di tengah kondisi suku bunga yang masih tinggi dan likuiditas uang yang makin ketat, bank-bank ini ternyata punya strategi bertahan yang berbeda-beda. Ada yang memilih pamer efisiensi tingkat tinggi dengan laba yang meroket tajam, namun ada juga yang memilih menahan diri dan menimbun uangnya demi berjaga-jaga dari risiko gagal bayar. Mari kita bedah satu per satu jeroan keuangan mereka dengan bahasa yang lebih membumi.
Mandiri (BMRI): Kelihatan Menyusut di Kertas, Padahal Makin Gemuk
Laporan keuangan Bank Mandiri mungkin sempat bikin kaget banyak pihak karena total asetnya terlihat anjlok dari Rp2.829,94 triliun pada akhir Desember 2025 menjadi Rp2.527,56 triliun pada pertengahan 2026. Penurunan total harta ini otomatis membuat catatan penyaluran kredit gabungan ikut turun dari Rp1.849,96 triliun menjadi Rp1.630,49 triliun, yang disusul oleh merosotnya dana simpanan nasabah dari Rp1.816,89 triliun menjadi Rp1.763,16 triliun.
Usut punya usut, angka ini turun murni karena Bank Syariah Indonesia (BSI) resmi dipisahkan pembukuannya dari sang induk per 1 Februari 2026, yang sontak membuat pos dana kelolaan syariah sebesar Rp289,62 triliun hilang total dari catatan, serta menyeret porsi modal pihak minoritas merosot tajam dari Rp33,65 triliun menjadi hanya Rp8,42 triliun.
Meski badannya terlihat mengecil di atas kertas, pundi-pundi keuntungan Mandiri justru makin gemuk dengan porsi laba bersih murni untuk pemilik saham yang melompat 24,3 persen menjadi Rp30,41 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu di angka Rp24,45 triliun. Porsi laba yang harus dibagi untuk hak pemegang saham minoritas juga ikut mengecil drastis dari Rp2,39 triliun menjadi sisa Rp1,21 triliun.
Secara operasional, mesin utama bank ini ternyata sangat tangguh, terbukti dari laba operasional gabungan yang tumbuh kokoh dari Rp33,44 triliun menjadi Rp39,06 triliun. Pendapatan hasil meminjamkan uang secara konvensional sukses merangkak naik ke angka Rp70,86 triliun dari sebelumnya Rp69,18 triliun, meski jika digabung dengan lini syariah angkanya memang turun dari Rp81,57 triliun menjadi Rp72,89 triliun lantaran anjloknya pencatatan syariah itu sendiri dari Rp12,39 triliun ke Rp2,03 triliun.
Hebatnya lagi, bank pelat merah ini berhasil menghemat beban bayar bunga dan syariah dari Rp29,19 triliun menjadi Rp25,05 triliun. Lewat pisahnya sang anak usaha BSI, kekuatan asli bisnis korporasi raksasa dan layanan digital Mandiri makin terlihat transparan, sekaligus mendongkrak tingkat keuntungan dari aset dan modal mereka ke level yang jauh lebih realistis di mata para investor.
BCA (BBCA): Sang Raja Transaksi yang Kebal Badai Bunga
Bergeser ke bank swasta kesayangan market, BCA kembali membuktikan diri sebagai raja transaksi harian yang kebal banting. Di saat bank lain pusing harus membayar bunga simpanan yang mahal, keuntungan BCA yang murni menjadi hak pemilik saham justru sukses menembus Rp29,5 triliun, yang artinya nilai keuntungan per sahamnya ikut terkerek naik menjadi Rp240 per lembar.
Pemasukan dari selisih bunga kredit nasabah dikurangi tabungan alias pendapatan bunga bersih terbukti sangat stabil terjaga di angka Rp42,51 triliun. Rahasia dapur BCA supaya tetap cuan tebal ternyata ada di pemasukan layanan harian seperti biaya admin bulanan, transfer antarbank, sampai tingginya penggunaan aplikasi myBCA yang meroket 10,1 persen secara tahunan mencapai angka Rp13,55 triliun.
Related News
Lonjakan Pendapatan BNBR 45% Belum Cukup Lepas dari Tekanan Rugi
Penjualan EV VKTR Naik 1.777%, Mitsubishi Fuso Berkontribusi Besar
Kantongi USD 30,7 Juta, ADMR Kembali Tembus Pasar Jepang
Laba Tumbuh Berkat UMKM, Risiko Kredit Korporasi Membayangi BBRI
Adu Dividen vs Transisi Energi Hijau, Lebih Menarik ADRO atau AADI?
Cuan Sewa Listrik Melesat 73%, India Jadi Tujuan Ekspor Terbesar AADI





