EmitenNews.com - PT Mayora Indah Tbk (MYOR) baru saja mengumumkan akan membagikan sebagian keuntungannya atau biasa disebut dengan dividen kepada para pemegang saham sebesar Rp60 per lembar. Total dana yang disiapkan perusahaan untuk aksi pembagian keuntungan ini terbilang besar, yakni mencapai Rp1,32 triliun.

Seberapa Sehat Pembagian Dividen Ini? 

Untuk menilai apakah nominal dividen ini aman bagi perusahaan, kita bisa membandingkannya dengan keuntungan yang mereka dapatkan. Sepanjang tahun buku 2025, Mayora berhasil mengumpulkan keuntungan bersih (laba bersih yang menjadi hak pemilik perusahaan) sebesar Rp2,91 triliun.

Dengan membagikan total dividen sebesar Rp1,32 triliun, artinya Mayora membagikan sekitar 45,4 persen dari total keuntungannya tahun lalu. Dalam dunia investasi, persentase ini dikenal dengan istilah Dividend Payout Ratio

Sisa keuntungannya, yang dicatat di pembukuan sebagai saldo laba ditahan (nilainya sekitar Rp1,58 triliun), sengaja tidak dibagikan. Uang ini ibarat tabungan perusahaan yang berfungsi sebagai dana cadangan (bantalan modal) untuk antisipasi di masa sulit atau untuk modal membuka pabrik dan pasar baru di kemudian hari.

Bagi investor yang mengincar dividen ini, ada beberapa tanggal penting yang tidak boleh terlewat:

  • Tanggal Cum Dividen di Pasar Reguler dan Negosiasi: 12 Juni 2026. Ini adalah batas hari terakhir Anda bisa membeli saham MYOR jika ingin berhak didata sebagai penerima dividen.

  • Tanggal Ex Dividen di Pasar Reguler dan Negosiasi: 15 Juni 2026. Jika Anda baru membeli saham pada tanggal ini, Anda sudah tidak berhak lagi mendapat jatah dividen.

  • Tanggal Pencatatan (Recording Date): 17 Juni 2026. Ini adalah hari di mana perusahaan resmi merekap daftar nama investor yang memegang saham dan berhak atas dividen.

  • Tanggal Pembayaran: Uang dividen akan otomatis ditransfer ke rekening saham investor pada 7 Juli 2026.

Melihat Rapor Bisnis Mayora: Sempat Tertekan, Kini Mulai Pulih 

Untuk melihat apakah Mayora bisa terus rutin membagikan dividen di masa depan, kita perlu mengecek kesehatan bisnis operasionalnya. Di tahun 2025 kemarin, Mayora sebenarnya mencetak hasil jualan (pendapatan kotor) yang bagus, yakni naik 7,2 persen menjadi Rp38,68 triliun. Tapi anehnya, keuntungan bersihnya justru menyusut 5,1 persen menjadi Rp2,91 triliun.

Kenapa hasil jualan naik tapi untungnya malah turun? Manajemen Mayora menjelaskan bahwa salah satu rintangan terbesar mereka adalah mahalnya harga bahan baku pangan. Jadi, meskipun produk seperti biskuit Roma dan Kopiko laku keras, biaya untuk membuat seluruh produk tersebut (biasa disebut Harga Pokok Penjualan) ikut membengkak parah. Kondisi ini membuat margin atau selisih keuntungannya menjadi lebih tipis.

Namun, angin segar mulai berhembus di awal tahun 2026. Berdasarkan catatan bulan Januari hingga April 2026, nilai penjualan mereka tumbuh wajar sebesar 3,1 persen menjadi Rp12,48 triliun.