EmitenNews.com - Fitch Ratings Indonesia telah menaikkan Peringkat Jangka Panjang Nasional perusahaan menara telekomunikasi Indonesia PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI) menjadi 'A(idn)' dari 'A-(idn)'. Prospeknya stabil.

Peningkatan peringkat ini, menurut Fitch, mencerminkan harapan bahwa Bali Tower akan mampu menjaga rasio utang bersih EBITDA di bawah 4,5x. “Ambang batas di mana kami akan menurunkan peringkat, dalam jangka menengah,” ujar Fitch dalam keterangannya, Jumat (31/7/2026).

Hal ini bahkan setelah memperhitungkan dampak penghentian sewa lebih awal atau tidak diperpanjangnya kontrak sewa sebagai akibat dari penggabungan PT XL Axiata Tbk dan PT Smartfren Telecom Tbk menjadi PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (AA+(idn)/Stabil).

Fitch memandang penurunan pendapatan segmen menara akan sebagian diimbangi oleh pertumbuhan segmen non-menara, meskipun memiliki profil bisnis yang lebih lemah daripada segmen menara.

Peringkat Bali Tower terus mencerminkan ukuran perusahaan yang kecil dan posisi pasar yang relatif lemah. Hal ini diimbangi oleh profil keuangan yang solid, dengan leverage bersih EBITDA sebesar 3,5x-4,5x. Likuiditasnya yang terbatas diimbangi oleh akses pendanaan yang sebanding dengan perusahaan sejenis yang memiliki peringkat serupa.

Peringkat Nasional 'A' menunjukkan ekspektasi risiko gagal bayar yang rendah relatif terhadap penerbit atau kewajiban lain di negara yang sama.

Fitch memperkirakan leverage bersih EBITDA Bali Tower sekitar 4,0x pada tahun 2026-2027 naik dari tahun 2025: 3,7x. Lembaga pemeringkat ini juga yakin bahwa arus kas tambahan dari proyek terminal aperture sangat kecil (VSAT) baru dan bisnis fiber-to-the-x (FTTX) pemerintah akan membantu Bali Tower mengelola dampak penghentian sewa akibat merger XLSMART dan menjaga leverage tetap terkendali. “Kami memperkirakan cakupan bunga EBITDA akan memadai pada 2,7x-3,0x (2025: 2,9x).”

Pendapatan Menara

Di sisi lain Fitch memproyeksikan pendapatan menara akan menurun sebesar 3%-4% pada tahun 2026 setelah merger XLSMART. Sebelum merger, XL Axiata dan Smartfren menyumbang hampir 40% dari pendapatan menara Bali Tower pada tahun 2025, dengan sejumlah besar lokasi yang tumpang tindih.

Penghentian lokasi yang tumpang tindih diperkirakan Fitch Ratings akan dilakukan pada tahun 2026, yang akan mengurangi pendapatan sewa dan menara Bali Tower. “Kami juga memperkirakan pendapatan sewa PT Indosat Tbk (IOH) akan menurun secara alami karena masa sewa berakhir dan beberapa kontrak tidak diperpanjang,” jelas Fitch.