Fundamental Membaik, Mengapa Saham GOTO Masih Tertekan?
:
0
Logo PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) di kantornya. Photo/Rizki Emitennews
EmitenNews.com - Perbaikan laba bersih tiga kuartal beruntun PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) belum serta-merta diikuti penguatan harga sahamnya. Di tengah tekanan pasar, induk Gojek dan GoPay itu mengambil langkah untuk memberikan manfaat bagi pemegang saham melalui pembatalan saham tresuri dan melanjutkan buyback saham.
GOTO mencatatkan laba bersih Rp441 miliar pada kuartal III-2026, berbalik dari rugi Rp255 miliar setahun sebelumnya. Pencapaian tersebut memperpanjang catatan laba bersih menjadi tiga kuartal berturut-turut.
Pendapatan bersih juga tumbuh 17% menjadi Rp5,6 triliun. Perbaikan itu disertai arus kas bebas yang disesuaikan sebesar Rp1,21 triliun pada kuartal III-2026, naik 389% secara tahunan.
Analis Sarkia Adelia dari Panin Sekuritas menilai harga saham dalam jangka pendek dapat dipengaruhi kondisi makroekonomi, arah suku bunga, ketidakpastian geopolitik, dan pergerakan dana investor. Karena itu, perbaikan bisnis tidak selalu langsung tercermin pada harga pasar.
“Investor perlu melihat dua hal secara bersamaan, yakni keberlanjutan perbaikan bisnis dan langkah manajemen mengalokasikan modal. Ketika harga saham masih tertekan, pembatalan saham treasuri serta pelaksanaan buyback menjadi relevan untuk menilai bagaimana perusahaan menjaga kepentingan pemegang saham,” ujarnya.
RUPSLB pada 14 Oktober 2026 telah menyetujui pembatalan 32 miliar saham treasuri hasil buyback 2024–2025, setara sekitar 2,7% dari total saham sebelum pembatalan. Penyelesaiannya diperkirakan membutuhkan dua hingga tiga bulan setelah pemenuhan proses yang disyaratkan.
Saham treasuri merupakan saham yang telah dibeli kembali dan disimpan perusahaan. Pembatalan mengurangi jumlah saham yang diterbitkan secara permanen, sehingga saham yang dibatalkan tidak dapat dijual atau dialihkan kembali.
Pemegang saham yang mempertahankan jumlah sahamnya akan memiliki persentase lebih besar terhadap total saham beredar setelah pembatalan.
“Nilai tambah pembatalan terletak pada kepastian bahwa saham tersebut tidak kembali beredar. Langkah ini mempertahankan manfaat buyback sebelumnya bagi pemegang saham yang bertahan, pada saat perusahaan sudah membukukan laba bersih,” kata Sarkia.
Secara terpisah, perseroan juga melanjutkan buyback saham GOTO dengan anggaran maksimal Rp3,5 triliun. Sejak penghapusan batas bawah harga Rp50 pada 28 September hingga 29 Oktober 2026, GOTO menggunakan Rp985 miliar untuk membeli 36 miliar saham. Sekitar Rp2,5 triliun masih tersedia dalam otorisasi yang berlaku hingga Juni 2027.
Related News
GDK Siap Serap Saham Buyback DGIK hingga Akhir Desember 2026
Premi Tumbuh 49,7%, Oona Indonesia Masuk Top 7 Perusahaan Asuransi
Holding Jasa Keuangan Grup Salim Serap 13,8 Juta Saham Baru BINA
Arus Kas Operasi HAJJ Berbalik Positif Rp77,96M Pada Kuartal III 2026
Trisula (TRIS) Cetak Kinerja Apik di Q3 2026, Siapkan Buyback Rp10M
MARK Tebar Dividen Interim Kedua Rp20 per Saham, Yield 2 Persen





