Grup Sinarmas Dominasi HSC, Intip Performa Sahamnya
:
0
Tampak anak kecil duduk di sebuah troli di dekat etalase minyak goreng merek Filma besutan Sinarmas Group. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Grup Sinarmas dan afiliasi mendominasi daftar saham kategori konsentrasi kepemilikan tinggi alias high shareholding concentration (HSC). Tercatat enam dari 51 emiten bertato HSC berbendera Sinarmas. Itu berdasar publikasi teranyar Bursa Efek Indonesia (BEI) edisi Rabu, 15 Juli 2026.
Emiten Grup Sinarmas dan afiliasinya tersebut antara lain Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMAR) 99,58 persen, Golden Energy Mines (GEMS) 99,24 persen, Ekamas Mora Repubblik (MORA) 95,65 persen, dan Dian Swastatika (DSSA) 95,76 persen, dan dua afiliasinya yaitu MSIG Indonesia (LIFE) 99,21 persen, dan Bank SMBC Indonesia (BTPN).
Lalu bagaimana kinerja saham Grup Sinarmas? kemarin saham SMAR melejit 100 poin alias 1,96 persen menjadi Rp5.200 per helai. Sejak awal tahun 2026 melonjak 9,47 persen alias 450 poin dari edisi 2 Januari 2026 sebesar Rp4.750.
GEMS juga menanjak 0,39 persen alias 25 poin menjadi Rp6.450 per lembar. Sejak awal tahun 2026, saham GEMS masih melorot 20,86 persen atau 1.700 poin dari periode 2 Januari 2026 sekitar Rp8.150 per eksemplar. MORA Stagnan di level Rp6.525. Sejak awal tahun susut 45,28 persen atau 5.400 poin dari edisi 2 Januari 2026 senilai Rp11.925.
DSSA anjlok 3,03 persen setara 25 poin menjadi Rp800. Kalan ditilik sejak awal tahun 2026, saham DSSA telah terpangkas 79,69 persen alias 3.138 poin dari edisi 2 Januari 2026 di kisaran Rp3.938. Dan, BTPN melesat 1,40 persen alias 30 poin menjadi Rp2.180 per lembar. Sejak awal tahun 2026, saham BTPN tumbuh 2,35 persen atau 50 pon dari 2 Januar 2026 sebesar Rp2.130.
Sementara itu, konglomerasi lain ikut menyumbang saham berstatus HSC. Grup Salim, dan afiliasi dengan tiga emiten yaitu, Indoritel Makmur Sentosa (DNET), Bank Ina Perdana (BINA), dan DCI Indonesia (DCII). Lalu, Grup Djarum, Grup Lippo, Grup Mayapada, dan CT Corp masing-masing dua emiten. Grup Djarum melalui Global Niaga (BELI), dan Krom Bank (BBSI). Grup Lippo via Multipolar Technology (MLPT), dan Siloam Hospital (SILO).
CT Corp asuhan Chairul Tanjung menyumbang dua emiten yaitu Allo Bank (BBHI), dan Bank Mega (MEGA). Grup Mayapada di bawah arahan Dato Sri Tahir mengirim duta HSC melalui Maha Properti Indonesia (MPRO), dan Sejahteraraya (SRAJ). Grup Bakrie lewat Ancara Logistics (ALII), Grup Mulia melalui Metropolitan Kentjana (MKPI).
Selanjutnya, Prajogo Pangestu, Low Tuck Kwong, dan H Isam berkontribusi melalui satu emiten. H Isam lewat Pradiksi Gunatama (PGUN), Prajogo Pangestu sodorkan Barito Energy (BREN), Low Tuck Kwong diwakili Bayan Resources (BYAN), Hermanto Tanoto dengan Jaya Sukses Makmur (RISE), dan Jusuf Hamka lewat Citra Marga Nusaphala (CMNP).
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis 51 saham HSC. Itu berdasar tinjauan mendalam serta evaluasi terhadap kriteria dan faktor pemicu (trigger factors) pengawasan HSC. Ke depan, fokus penyaringan akan diperketat terutama bagi emiten yang memiliki kapitalisasi pasar (market cap) di atas Rp10 triliun namun memiliki price impact ratio tinggi.
Indikasi kerawanan tersebut diukur dengan melihat korelasi antara perubahan harga saham terhadap velocity (tingkat perputaran saham). Nilai velocity diperoleh dari rata-rata volume transaksi harian dibandingkan dengan jumlah saham keseluruhan yang dimiliki oleh publik (free float).
Related News
Imbas Banjir Bandang, Aktivitas Pengeboran DEWA 0 Meter
INPP Ekspansi Luar Jakarta, Genjot Pertumbuhan Berkelanjutan
10 Grup Konglomerat Kompak Terjerat HSC BEI, Cek Saham-Sahamnya!
Emiten Konglo di Daftar HSC Terbaru, Dari Salim Hingga Hartono
Baru Seminggu di Bursa, Hampir 28% Saham JECX Langsung Dicaplok SAME
Dirut ITSEC Asia (CYBR) Tambah Saham, Komisaris Ini Jual 835.300 Helai





