EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia merosot menuju USD70 per barel pada Selasa akibat fokus pasar beralih ke kelanjutan pembicaraan damai Amerika Serikat dan Iran di Doha.

Penurunan ini mengembalikan sebagian keuntungan dari sesi sebelumnya di tengah sinyal campuran dari kedua belah pihak terkait prospek pasokan global. Pasar kini bersikap antisipatif terhadap hasil dialog strategis tersebut.

Ketegangan sempat meningkat setelah dua kapal tanker dilaporkan mengalami kerusakan yang memperlambat pengiriman melalui Selat Hormuz pada akhir pekan lalu. Jalur ini krusial bagi pasokan global, termasuk aliran energi ke kawasan Asia Tenggara seperti Indonesia. Kendati demikian, situasi mulai membaik karena operator tanker dan awak kapal tetap bersedia melintasi kawasan tersebut, yang memicu harapan normalisasi bertahap pasokan minyak.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menegaskan posisi strategis negaranya dalam pengawasan jalur tersebut meskipun Oman memilih absen dalam kesepakatan terbaru. Teheran berniat untuk terus mengawasi lalu lintas melalui Selat Hormuz meskipun Oman memilih untuk tidak berpartisipasi.

Berdasarkan perjanjian sementara saat ini, Iran sepakat untuk tidak mengenakan biaya transit selama 60 hari. Namun, Teheran tetap membuka peluang untuk memperkenalkan biaya tersebut setelah masa perjanjian berakhir. Langkah potensial ini memicu penolakan keras dari pihak AS, Eropa, serta negara-negara Arab Teluk yang khawatir akan stabilitas biaya logistik energi.

Bagi Indonesia selaku negara importir minyak penuh (net oil importer), fluktuasi harga global menuju angka USD70 per barel ini menjadi sentimen penting karena berdampak langsung pada postur anggaran subsidi energi domestik. Kembalinya jutaan barel pasokan ke pasar global diharapkan mampu menjaga stabilitas harga minyak mentah di pasar internasional dalam jangka panjang.(*)