EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street kembali ditutup menguat tipis. Itu ditopang lonjakan saham sektor teknologi di tengah kembali penguatan harga minyak mentah usai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak proposal damai Iran. Tasnim News Agency, menyebut Iran telah mengirimkan proposal damai ke AS untuk mengakhiri konflik militer. 

Inti dari proposal damai Iran adalah mengakhiri konflik militer seluruh wilayah, dan menghapus seluruh sanksi selama ini dikenakan ke negara tersebut. Merespons itu, Trump menyatakan proposal damai Iran sama sekali tidak bisa diterima. Trump mengatakan gencatan senjata antara AS dan Iran sudah berlangsung satu bulan dalam kondisi sangat lemah. 

Merespons perkembangan tersebut, harga minyak mentah jenis WTI melonjak 2,78 persen menjadi USD98,07 per barel, sedang Brent naik 2,88 persen ke level USD104,20 per barel. Lompatan indeks Wall Street, penundaan rencana penerapan tarif royalti baru untuk mineral logam, dan harga beberapa komoditas diprediksi menjadi sentimen positif pasar. 

Sementara itu, sikap hati-hati investor menjelang pengumuman rebalancing MSCI, aksi jual masif investor asing, dan pelemahan rupiah berpeluang menjadi katalis negatif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG). So, IHSG diprediksi bergerak bervariasi cenderung melemah dengan kisaran support 6.845-6.785, dan resistance 6.965-7.025.

Berdasar data dan fakta tersebut, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menyarankan para pelaku pasar untuk mengoleksi sejumlah saham andalan berikut. Yaitu, Astra International (ASII), Astra Agro Lestari (AALI), Bukit Asam (PTBA), Japfa Comfeed (JPFA), Timah (TINS), dan Wismilak (WIIM). (*)