Harga Minyak Melonjak 11%, Saham Energi RI Siap Pesta
:
0
Harga minyak mentah dunia stabil di atas USD 79 per barel pada Jumat ini dan diproyeksikan melonjak lebih dari 11% pekan ini akibat eskalasi konflik militer Timur Tengah. (Foto: magnific)
EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia stabil di atas USD 79 per barel pada Jumat ini dan diproyeksikan melonjak lebih dari 11% pekan ini akibat eskalasi konflik militer Amerika Serikat-Iran di Timur Tengah.
Lonjakan tajam harga minyak mentah global ini dipicu oleh aksi saling serang yang kian intensif antara Washington dan Teheran, yang memperparah kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan energi global. Berdasarkan data Trading Economics, AS melancarkan beberapa serangan terhadap Iran pekan ini. Serangan tersebut dilaporkan mengenai sebuah kapal tanker minyak di dekat terminal ekspor utama Iran untuk pertama kalinya sejak pemberlakuan kembali blokade pelabuhan.
Ketegangan semakin memanas setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan adanya potensi serangan lanjutan.
"AS dapat menargetkan infrastruktur Iran minggu depan jika upaya diplomatik tidak menghasilkan terobosan," ujar Trump.
Menanggapi ancaman tersebut, Teheran dilaporkan menginstruksikan pemberontak Houthi di Yaman untuk menutup Selat Bab el-Mandeb jika infrastruktur listrik mereka diserang. Selat tersebut merupakan jalur vital bagi ekspor minyak Arab Saudi melalui Laut Merah. Akibat eskalasi ini, lalu lintas pengiriman melalui Selat Hormuz dilaporkan telah menurun tajam, meskipun beberapa kapal terpantau masih terus melintasi jalur air tersebut.
Dampak Instan ke Pasar Saham Indonesia
Bagi investor di Indonesia, lonjakan harga minyak global ke level USD 79 per barel ini menjadi katalis positif yang sangat dinantikan untuk sektor energi. Saham-saham komoditas migas di Bursa Efek Indonesia (BEI), seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Elnusa Tbk (ELSA), dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), berpotensi mengalami lonjakan sentimen beli (akumulasi) seiring dengan proyeksi kenaikan pendapatan emiten akibat terkereknya harga jual rata-rata (ASP) minyak mentah.
Kendati demikian, lonjakan ini juga menjadi alarm bagi APBN Indonesia terkait potensi membengkaknya beban subsidi BBM, mengingat Indonesia saat ini berstatus sebagai negara importir bersih minyak (net oil importer).(*)
Related News
Gagal Bayar, Fitch Pangkas Peringkat Pos Indonesia
Harga Emas Mingguan Anjlok 3 Persen Usai AS Serang Iran
Di Era Presiden Prabowo, Pembangunan Megaproyek Rp390T Ini Dimulai
Gencarkan Literasi Keuangan Digital, Indosaku Datangi Berbagai Kampus
Pasar Kripto Bergerak Sideways, Bittime Futures Strategi Alternatif
Realisasi Investasi Capai Rp511,8 Triliun, Serap 742 Ribu Tenaga Kerja





