EmitenNews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat pada perdagangan pasar spot Rabu pagi (4/11/2026). Berdasarkan data real-time Google Finance per pukul 10.00 WIB, rupiah ditransaksikan di kisaran Rp18.127 per dolar AS, setelah sempat menyentuh posisi Rp18.110 per dolar AS pada pukul 09.06 WIB.

Pergerakan ini mencatatkan penguatan sebesar 25 poin atau naik 0,14 persen dibandingkan penutupan perdagangan Selasa (3/11/2026) yang berada di level Rp18.135 per dolar AS.

Penguatan mata uang Garuda sejalan dengan tren mata uang kawasan Asia yang mayoritas bergerak positif terhadap greenback. Dolar Singapura (SGD) tercatat bergerak di kisaran Rp14.145, sementara rupiah tampil lebih unggul dibandingkan ringgit Malaysia yang bergerak fluktuatif di pasar regional.

Melandainya indeks dolar AS (DXY) menjadi penopang utama pergerakan rupiah pagi ini. Indeks yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap mata uang utama dunia merosot ke level 101,42. Penurunan tersebut dipicu oleh hasil awal pemilihan paruh waktu AS yang meningkatkan prospek kebuntuan politik di Washington, sehingga berpotensi membatasi pengeluaran pemerintah AS.

Dari faktor eksternal lain, meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed) memberikan dorongan positif bagi mata uang negara berkembang (emerging markets). Bagi Indonesia, pelemahan dolar AS ini membantu menekan potensi inflasi dari barang impor (imported inflation).

Sementara dari faktor internal, langkah Bank Indonesia (BI) dalam mengawal stabilitas nilai tukar via pasar valas dan transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) terus menjaga kepercayaan pelaku pasar. Penguatan rupiah di pasar spot pagi ini turut memberi angin segar bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta Surat Berharga Negara (SBN).(*)