EmitenNews.com - Imbal hasil atau yield obligasi Treasury AS tenor 10 tahun merosot hingga ke kisaran 4,9 persen pada Rabu (4/11/2026). Penurunan hingga mendekati level terendah dalam delapan minggu terakhir ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian politik akibat hasil awal pemilihan paruh waktu Amerika Serikat yang mendorong investor mengalihkan dana ke aset aman (safe haven).

Seperti dilaporkan Trading Economics pelaku pasar modal global mulai mengantisipasi potensi kebuntuan politik di Washington jika Partai Demokrat berhasil mengamankan kendali atas Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat. Kondisi tersebut diperkirakan bakal membatasi ruang pengeluaran pemerintah AS ke depan.

Kemenangan telak Partai Demokrat juga berpotensi membuka jalan bagi pengawasan korporasi yang lebih besar serta pengetatan regulasi kecerdasan buatan (AI), yang dinilai berisiko meredam prospek pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam.

Selain faktor politik domestik, pelaku pasar turut memantau kebijakan luar negeri AS. Investor mencermati apakah Presiden Donald Trump akan melanjutkan aksi serangan militer terhadap Iran setelah gelaran pemilihan di tengah alotnya jalur diplomasi.

Di samping dinamika geopolitik dan pemilu, perhatian pasar global pekan ini juga tertuju pada rilis laporan data tenaga kerja AS yang dipantau ketat. Data ekonomi tersebut menjadi rujukan utama untuk menilai kondisi pasar tenaga kerja sekaligus memprediksi arah kebijakan suku bunga acuan Federal Reserve selanjutnya.

Penurunan imbal hasil obligasi AS dan meningkatnya perburuan aset safe haven menjadi indikator penting bagi pergerakan arus modal asing. Kondisi ini secara langsung memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah, tingkat imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), serta pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).(*)