EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street kemarin ditutup melemah. Itu seiring saham berbasis teknologi kecerdasan buatan (AI) tertekan, lonjakan imbal hasil (yield) obligasi, dan harga minyak mentah. Saham berbasis AI mengalami tekanan cukup besar menyusul perubahan besar-besaran mengenai penawaran umum (IPO).

Pasalnya, pada sektor tersebut mulai ada kekhawatiran terhadap keamanan. CEO anthropic Dario Amodei menyerukan agar peningkatan kemampuan AI diperlambat karena adanya risiko keamanan. Seruan itu, juga didukung para tokoh besar bidang teknologi kecerdasan buatan.

Sementara itu, CEO OpenAI mengatakan melakukan IPO tahun ini akan menjadi langkah tidak bijaksana. Beberapa saham teknologi kecerdasan buatan tercatat mengalami penurunan signifikan Nvidia 3,36 persen, Broadcom 4,77 persen, Advance Micro Device 4,40 persen, Intel 5,59 persen, dan Marvell Technology 7,32 persen.

Perosotan indeks bursa Wall Street diprediksi menjadi sentimen negatif pasar. Pergantian menteri keuangan dari kalangan teknokrat untuk menjaga kredibilitas APBN, dan lompatan harga beberapa komoditas berpeluang menjadi sentimen positif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG).

So, IHSG diprediksi bergerak bervariasi cenderung menguat dengan kisaran support 6.465-6.395, dan resistance 6.600-6.670. Menilik data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menyarankan investor mengoleksi saham Bank Mandiri (BMRI), Bank BNI (BBNI), Astra (ASII), Dharma Satya (DSNG), Bumi Mineral (BRMS), dan Amman Mineral (AMMN). (*)