IHSG Pagi Terkerek 0,46 Persen ke 7.669, Tekanan Rupiah Bayangi Market
:
0
Bayang-bayang pengunjung terpantul di monitor perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI).
EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat sensitif pada perdagangan Senin (20/4/2026), seiring sentimen global yang relatif stabil meskipun tekanan nilai tukar rupiah masih membayangi pasar domestik.
IHSG pagi tertakar naik 35,05 poin atau 0,46 persen ke level 7.669,04. Pergerakan awal ini ditopang oleh 281 saham menguat, sementara 89 saham melemah dan 319 saham lainnya flat. Nilai transaksi tercatat Rp189,84 miliar dengan volume 330,24 juta saham dari 50.434 kali transaksi, serta kapitalisasi pasar naik ke Rp13.703 triliun.
Meski indeks menguat, tekanan eksternal masih terasa, terutama dari pelemahan rupiah. Riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia mencatat mata uang Rupiah sempat menyentuh level terlemah di kisaran Rp17.190 per dolar AS, imbas meningkatnya premi risiko terhadap Indonesia.
Dalam risetnya, tim analis menilai pelemahan rupiah tidak semata dipicu oleh penguatan dolar AS, melainkan faktor domestik yang lebih dominan. Hal ini terlihat dari indeks dolar AS (DXY) yang justru cenderung stabil di kisaran 98, bahkan melemah dalam beberapa hari terakhir.
Beranjak ke sisi lain, sentimen positif dari lembaga pemeringkat global belum mampu mengangkat rupiah secara signifikan. S&P tetap mempertahankan peringkat Indonesia di level BBB dengan outlook stabil, namun belum cukup menjadi katalis penguatan nilai tukar.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan mata uang utama dunia. Euro dan pound sterling justru mencatat penguatan signifikan masing-masing sekitar 9,1 persen month-to-date (MTD) dan 7,7 persen MTD sepanjang April.
Dari indikator global, pasar saham Amerika Serikat menunjukkan penguatan dengan Dow Jones Industrial Average (DJIA) naik 1,79 persen ke 49.447,43, sementara indeks MSCI Indonesia (EIDO) juga menguat 1,97 persen ke 16,54. Di sisi lain, harga minyak mentah WTI terkoreksi tajam 11,45 persen ke level US$83,85 per barel.
Aliran dana asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp931,61 miliar. Tekanan jual asing terpantau dominan pada saham perbankan besar seperti BBCA, BMRI, dan BBRI, serta saham komoditas seperti BUMI dan ANTM. Sebaliknya, saham seperti CUAN, INCO, EMAS, BRMS, dan BREN masuk dalam jajaran top buy.
Secara teknikal, analis Mirae Asset menyebut IHSG berada dalam kondisi overbought dengan potensi konsolidasi jangka pendek. Level support berada di 7.590 dan 7.482, sedangkan resistance di kisaran 7.779 hingga 7.847.
Adapun, sejumlah saham yang direkomendasikan secara teknikal antara lain:
BBRI (Bank Rakyat Indonesia) – pullback
TP1: Rp3.500 (+2,04 persen)
TP2: Rp3.640 (+6,12 persen)
TP3: Rp3.910 (+13,99 persen)
Support: Rp3.370 & Rp3.220
BBTN (Bank Tabungan Negara) – potensi uptrend
TP1: Rp1.335 (+1,91 persen)
Related News
Jepang Targetkan 26 Persen Pangsa Global Mobil Otonom di 2030
BIPI Jajaki Divestasi Anak Usaha Bidang Batu Bara
Waduh! Ada Tren Peningkatan Rasio Kredit Bermasalah di Segmen UMKM
Setahun Sedot 55 Miliar Liter Air, Industri AMDK Diminta Jaga Kendali
Jangan Lewatkan, Ada Green Sukuk Dalam Lelang SBSN Besok
Investor Waswas, IHSG Cenderung Koreksi





