EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 2,03 persen ke level 6.956,80 pada perdagangan Kamis (30/4/2026), menjelang libur panjang. Secara teknikal, indeks kini berada dalam kondisi jenuh jual (oversold) sehingga membuka peluang rebound terbatas pada awal pekan ini.

Secara mingguan, indeks juga terkoreksi sebesar 2,42 persen. Pelemahan IHSG dalam sepekan terakhir didorong tekanan sejumlah sektor utama, terutama IDX Basic turun 3,97 persen, IDX Energy turun 2,25 persen, dan IDX Infrastructures turun 1,99 persen.

Sektor lain juga mencatat penurunan, IDX Consumer Cyclicals turun 1,40 persen, IDX Healthcare turun 1,50 persen, IDX Industrials turun 1,65 persen, IDX Consumer Noncyclicals turun 1,84 persen, IDX Properties & Real Estate turun 1,24 persen.

Lalu, IDX Technology turun 0,40 persen, dan IDX Transportation & Logistic turun 0,63 persen. Sektor keuangan atau IDX Financials menjadi satu-satunya mencatat penguatan tipis 0,19 persen. Dari sisi aliran dana, investor asing masih mencatat aksi jual bersih signifikan.

Pada perdagangan terakhir April 2026, net foreign sell tercatat Rp1,65 triliun, sehingga secara year to date mencapai Rp43,73 triliun. Sejalan dengan itu, kinerja IHSG sejak awal tahun juga masih tertekan dengan penurunan sebesar 19,55 persen.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M Nafan Aji Gusta, mengatakan secara teknikal IHSG saat ini berada dalam kondisi oversold berdasar indikator RSI, sehingga peluang rebound dari fase “wave B” masih terbuka. “Meski demikian, indikator RSI dan Stochastics masih menunjukkan sinyal negatif, namun volume perdagangan mulai mengalami kenaikan,” ujar Nafan, Senin (4/5/2026).

Untuk perdagangan awal pekan ini,IHSG diperkirakan bergerak pada rentang support di level 6.917 hingga 6.684, dengan resistance berada di kisaran 7.119 hingga 7.244. Sejumlah sentimen domestik dan global juga masih mempengaruhi pergerakan indeks.

Nah, dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan rilis data ekonomi penting seperti PMI Manufaktur, inflasi, serta neraca perdagangan yang berpotensi memengaruhi arah indeks. Selain itu, awal Mei 2026 juga menjadi periode berlakunya hasil evaluasi mayor indeks LQ45.

Kondisi tersebut berpotensi mendorong peningkatan volume perdagangan seiring aksi rebalancing portofolio oleh manajer investasi domestik pada saham-saham yang masuk maupun keluar dari indeks tersebut. Dari sentimen global, pasar mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran belum menunjukkan titik terang.

Proposal damai yang diajukan Iran, termasuk terkait isu nuklir dan Selat Hormuz, dilaporkan belum mendapat persetujuan dari Amerika Serikat. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump juga disebut masih membuka kemungkinan aksi militer lanjutan, sehingga meningkatkan ketidakpastian di pasar global.