EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup melemah 0,68 persen menjadi 6.858. Pelemahan Rupiah pada level terendah baru, dan antisipasi penurunan bobot oleh MSCI menjadi faktor negatif pendorong penyusutan IHSG. Rupiah berlanjut melemah pada rekor terendah menjadi Rp17.525 per dolar Amerika Serikat (USD). 

Sementara itu, sektor kesehatan mencatat koreksi terbesar 3,51 persen, dan sektor basic materials membukukan kenaikan terbesar 1,85 persen. Oleh sebab itu, IHSG berpotensi menguji level 6.700. Perlu diwaspadai koreksi lanjutan karena pengumuman MSCI, dan menjelang libur long weekend. 

Menjelang pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada 13-15 Mei 2026 di Beijing, delegasi kedua negara melakukan pertemuan di Korea Selatan pada Selasa-Rabu untuk membahas mengenai perdagangan. Pekan lalu, menteri luar negeri Iran menuju Tiongkok.

Kemungkinan besar, masalah Iran akan dibahas dalam pertemuan Presiden Trump dan Presiden Xi. Sementara itu, perkiraan meningkat bahwa Presiden Putin dapat berkunjung ke Tiongkok pada Senin (18/5). Pengumuman rebalancing indeks MSCI Mei 2026, ternyata lebih banyak saham dikeluarkan dari perkiraan pasar sebelumnya. 

Kondisi itu, diperkirakan menjadi sentimen negatif dalam jangka pendek. Dalam MSCI Global Standard Indexes tidak ada yang ditambahkan, yang dihapus AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN dan AMRT. Sedangkan dalam MSCI Small Cap Indexes, ditambahkan saham AMRT, sedang dihapus ANTM, AALI, BANK, BSDE, DSNG, SIDO, MIDI, MIKA, MSIN, TKIM, APIC, SSMS, dan TAPG. 

Berdasar data dan fakta tersebut, Phintraco Sekuritas menyarankan para pelaku pasar untuk mengoleksi sejumlah saham andalan berikut. Yaitu, Alamtri Resources (ADRO), Indosat Ooredoo (ISAT), Chandra Daya Investasi (CDIA), Barito Pacific (BRPT), dan Bank Negara Indonesia (BBNI). (*)