EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street akhir pekan lalu ditutup melemah. Itu dipicu ekspektasi penaikan suku bunga acuan oleh The Fed pada pertemuan bulan ini setelah rilis data nonfarm payrolls Agustus 2026 lebih baik dari perkiraan. Bulan lalu, nonfarm payrolls bertambah 162 ribu, jauh lebih tinggi dari perkiraan penambahan 53 ribu.

Sementara itu, tingkat pengangguran bertahan 4,1 persen atau sesuai ekspektasi pasar. Seiring soliditas nonfarm payrolls Agustus 2026 imbal hasil obligasi dengan tenor dua tahun naik ke level tertinggi sejak Januari 2025. Di sisi lain, probabilitas kenaikan suku bunga acuan kini 58 persen naik dari sebelum data nonfarm payrolls rilis 49,4 persen.

Koreksi indeks bursa Wall Street seiring probabilitas kenaikan suku bunga acuan diprediksi menjadi sentimen positif pasar. Lonjakan harga beberapa komoditas seperti minyak mentah, batu bara, nikel, dan tembaga berpeluang menjadi sentimen positif untuk indeks harga saham IHSG. So, IHSG diprediksi bergerak bervariasi cenderung melemah dengan kisaran support 6.570-6.505, dan resistance 6.700-6.770.

Menilik data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menyarankan para pelaku pasar untuk memperhatikan sejumlah saham berikut. Yaitu, Petrindo Jaya Kreasi (CUAN), Petrosea (PTRO), Dharma Satya Nusantara (DSNG), London Sumatra (LSIP), Eagle High Plantations (BWPT), dan Timah (TINS). (*)