Imbal Hasil AS Naik, Saham Asia Ikut Tertekan
:
0
Imbal hasil obligasi Treasury AS jangka panjang bergerak naik pada perdagangan Jumat di tengah kekhawatiran pasar bahwa rencana pemerintah mengurangi biaya pinjaman hanya berdampak sementara. (Foto: Dok)
EmitenNews.com - Imbal hasil obligasi Treasury AS jangka panjang bergerak naik pada perdagangan Jumat di tengah kekhawatiran pasar bahwa rencana pemerintah mengurangi biaya pinjaman hanya berdampak sementara. Kondisi ini memberi tekanan pada pasar keuangan global dan Asia, termasuk berdampak pada kewaspadaan pasar modal Indonesia terhadap potensi pengetatan likuiditas global dan pergerakan arus modal asing.
Menurut data Trading Economics, Jumat, imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun diperdagangkan di kisaran 4,7% setelah mengalami pemulihan tajam pada sesi sebelumnya. Sementara itu, imbal hasil obligasi 30 tahun naik ke level 5,25%, menghapus penurunan yang sempat terjadi setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan pembelian kembali utang (buyback) dalam jumlah yang lebih besar.
Pergerakan naik imbal hasil ini terus berlangsung meski Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan percepatan buyback dapat melebihi angka USD4 miliar per penerbitan. Bessent juga menyoroti rencana fiskal mendatang serta menyatakan defisit anggaran AS kemungkinan telah mencapai puncaknya di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump.
Melonjaknya imbal hasil Treasury jangka panjang sejak Juli terdorong oleh peningkatkan penerbitan utang oleh perusahaan-perusahaan teknologi AI dan naiknya pengeluaran defisit federal. Di sisi lain, harga minyak global yang merangkak naik akibat persiapan sanksi ekonomi baru AS terhadap Iran turut memperkuat kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi dunia.
Dampak lonjakan imbal hasil AS dan lonjakan harga energi ini langsung merembet ke pasar Asia. Indeks Nikkei 225 Jepang terkoreksi 0,7% ke bawah level 66.000, sementara Indeks Topix melemah 0,25% ke sekitar 4.050 pada hari Jumat. Penurunan ini menghapus keuntungan sesi sebelumnya seiring pulihnya imbal hasil obligasi global dan berhentinya penurunan imbal hasil obligasi acuan Jepang tenor 10 tahun.
Pasar saham Jepang juga tertekan oleh rilis data inflasi domestik yang meningkat selama dua bulan berturut-turut. Kondisi tersebut memperbesar peluang kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Jepang (BOJ) dalam waktu dekat, setelah Gubernur BOJ Kazuo Ueda mengindikasikan percepatan normalisasi kebijakan moneter.
Sektor teknologi memimpin penurunan saham di Jepang, dengan pelemahan signifikan pada Advantest sebesar 0,8%, Taiyo Yuden sebesar 3,2%, dan SoftBank Group sebesar 2,3%. Secara mingguan, Indeks Nikkei diproyeksikan melemah lebih dari 4%, sedangkan Indeks Topix diperkirakan terperosok lebih dari 3%.(*)
Related News
Krisis AS-Iran Katrol Minyak, Harga Emas Antam Bertahan
Opsi Purbaya Terkait FTA: Selamatkan Industri atau Biarkan Mati
Kawal Penataan BUMN, KPPU Bentuk Satgas Khusus
Obligasi dan Minyak Bergejolak, Investor Serbu Emas
Harga Minyak Tembus USD93, APBN dan BBM Dalam Tekanan
Efek Buyback Mereda, Wall Street Tertekan Utang AS





