Investasi AI Melesat, The Fed Waspadai Risiko Sistemik
:
0
The Federal Reserve, mulai mengevaluasi derasnya aliran modal ke sektor kecerdasan buatan (AI) yang berpotensi memicu kerentanan pada sistem keuangan global. (Ilustrasi : AI/Biggo Finance)
EmitenNews.com - Pejabat bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, mulai mengevaluasi derasnya aliran modal ke sektor kecerdasan buatan (AI) yang berpotensi memicu kerentanan pada sistem keuangan global.
Meskipun para bankir sentral menilai krisis besar seperti kehancuran dot-com atau krisis perumahan dua dekade lalu kecil kemungkinan terulang, besarnya skala investasi, lonjakan utang perusahaan, serta struktur pembiayaan yang makin kompleks membuat The Fed meningkatkan kewaspadaan. Perkembangan risiko makroekonomi ini turut menjadi sorotan bagi pelaku pasar modal dan industri teknologi di Indonesia.
Presiden Federal Reserve New York John Williams menilai antusiasme tinggi di sektor AI belum mengarah pada krisis keuangan. "Saya tidak melihat ini sebagai situasi gelembung," kata Williams dalam wawancaranya bersama Reuters pada Jumat.
Ia menambahkan bahwa perdebatan investor terkait besarnya manfaat ekonomi nyata dari AI pasti akan memicu volatilitas pasar. Williams menekankan bahwa pinjaman pendukung investasi AI sejauh ini diserap oleh perusahaan berkemampuan finansial tinggi, sehingga risiko utang masih terkendali.
Namun, pandangan lebih berhati-hati disampaikan Presiden Fed Kansas City Jeff Schmid. Dalam pidatonya pada Selasa, Schmid menyoroti keterkaitan finansial yang rumit antara pusat data, penyedia energi, dan masyarakat sekitar.
"Saya berpendapat bahwa ada beberapa tanda yang menunjukkan bahwa kita harus mulai membicarakan hal itu pada tingkat makro, apakah industri ini menjadi terlalu besar untuk gagal?" ujar Schmid. Ia mempertanyakan ketergantungan struktur pembiayaan tersebut pada tingkat utang (leverage) yang berisiko memicu efek domino jika terjadi guncangan.
Sementara itu, Presiden Federal Reserve San Francisco Mary Daly pada Rabu menyatakan bahwa derasnya arus modal ke AI memang dapat terlihat sangat mengkhawatirkan.
Namun, Daly mencatat sebagian besar komitmen investasi bernilai besar belum sepenuhnya terealisasi menjadi aset fisik, sehingga menekan risiko timbulnya aset terdampar (stranded assets). Menurut Daly, prioritas bank sentral saat ini adalah menyusun sistem pemantauan untuk memetakan potensi risiko di masa depan.
Kepala Ekonom Apollo Global Management Torsten Slok memberikan catatan bahwa lonjakan pembangunan pusat data AI saat ini masih berada di bawah separuh dari puncak krisis perumahan AS tahun 2005 yang mencapai 6,6 persen dari PDB.
Meski demikian, Slok menggarisbawahi bahwa laju pertumbuhan investasi AI terhadap PDB melaju jauh lebih cepat dibandingkan periode pra-krisis perumahan tersebut, yang menegaskan alasan di balik peningkatan pengawasan ketat oleh The Fed.(*)
Related News
Konflik Hormuz Sulut Inflasi, Harga Emas Tahan Diri
Alarm Ekonomi Jepang: Devisa Menyusut, Konsumsi Anjlok 3,3 Persen
Bendung Industri Chip China, AS Kenakan Tarif Polisilikon 15%
Syarat Iran di Hormuz Ketat, Harga Minyak Mentah Melonjak
Pembukaan Hormuz Tekan Imbal Hasil Obligasi AS dan Jepang
Setelah Tiga Tahun, MSCI Cabut Perlakuan Khusus Indeks Bangladesh





