EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi bergerak mix cenderung menguat. Pelaku pasar akan mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat (AS). Di mana, konsensus memperkirakan inflasi pada November menurun ke level 7,3 persen Yoy dari sebelumnya 7,7 persen Yoy.
”Kami perkirakan Indeks bergerak pada rentang support 6.690, dan resisten 6.800,” tutur Ayu Dian, Research Analyst Reliance Sekuritas Indonesia, Selasa (13/12).
Secara teknikal, Indeks membentuk candle hammer diikuti pelemahan mulai terbatas sehingga berpotensi menguji resistance. Indikator stochastic membentuk golden cross. Beberapa saham memiliki potensi naik untuk perdagangan hari ini Antara lain BBCA, AGII, BIPI, ADRO, UNTR, INKP, dan BMRI.
Menyudahi perdagangan kemarin, Indeks menguat 0,28 persen ke level 6.734. Beberapa sektor mengalami lonjakan di antaranya non-cyclicals naik 1,21 persen, transportasi surplus 1,06 persen, dan sektor health menanjak 0,73 persen. Investor asing membukukan net sell di pasar reguler Rp1 triliun. Saham paling banyak dijual investor asing antara lain BMRI, BBCA, dan TLKM.
Sementara itu, ketiga indeks utama bursa saham AS Wall Street kompak menguat. Didorong ekspektasi pasar akan penurunan inflasi, dan keputusan suku bunga The Fed. Di mana, konsensus memperkirakan naik 50 bps.
Pagi ini, bursa Asia telah menyusuri zona hijau. Indeks Nikkei 225 menguat 0,62 persen, dan indeks Kospi melejit tipis 0,02 persen. Penguatan bursa Asia didorong ekspektasi penurunan inflasi tercermin pada data PPI mulai melambat. Selain itu, pasar juga merespons positif pelonggaran pembatasan di China akibat Covid-19. (*)
Related News
Sempat Rontok 3 Persen, IHSG Sesi Siang Berkunjung Pulih di 7.039
Animo Tukar Uang Pecahan Baru Meningkat Hampir Dua Kali Lipat
Hadapi Kemarau Lebih Awal, Petani Didorong Pakai Varietas Padi Adaptif
IHSG (16/3) Dibuka Tertekan di Awal Pekan, Ambruk 3,08 Persen ke 6.917
Sepakati Investasi Rp339 Triliun, Proyek Gas Masela Segera Dimulai
Mengekor Wall Street, IHSG Loyo





