Demikian juga Nabi Muhammad saw sendiri mempraktikkan pengobatan melalui pendekatan spiritual: Dari Masruq, dari Aisyah, bahwa Nabi SAW mengobati sebagian keluarganya. Beliau mengusap dengan tangannya yang kanan seraya berdo’a:
“Ya Allah Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit dan sembuhkanlah dia. Karena Engkau adalah Dzat yang dapat menyembuhkan, tidak ada kesembuhan (yang hakiki) selain kesembuhan dari-Mu. Dengan kesembuhan yang tidak akan berlanjut dengan kekambuhan”. (HR Bukhari).
Berdasarkan uraian di atas, bahwa fenomena Ida Dayak sebenarnya telah lama dipraktikkan oleh para Tabib melalui pendekatan alternatif. Meskipun oleh para dokter rumah sakit, praktik pengobatan Ida Dayak dinilai "merusak" sistem keilmuan medis. Faktanya, hal tersebut juga diakui oleh sebuah sistem pengobatan alternatif yang tidak dilarang di negara ini selama tidak ada unsur penipuan dan merugikan masyarakat.
Jadi, pengobatan model apapun dapat dipilih oleh masyarakat selama itu diyakini dapat menyembuhkan penyakitnya dan tidak merusak tatanan sosial yang ada. Bukankah para dokter dan terapis alternatif, khususnya Ida Dayak, hanya sekedar media (wasilah) penyembuhan, sedangkan Dzat Penyembuh sejatinya adalah Allah swt. Wallahu a'lam.
Mengutip dari tulisan Thobib Al-Asyhar (Dosen Psikologi Islam pada Pascasarjana SKSG Universitas Indonesia, Kasubdit Kelembagaan dan Kerjasama DIKTIS Kemenag) di laman kemenag.go.id
Related News

BNI & ITB Gelar Ultra Marathon 180 KM, Dorong Hidup Sehat

BNI–ITB Panaskan Suasana Jelang wondr ITB Ultra Marathon 2025

SIG (SMGR) Tanam 17.845 Mangrove, Dukung Jatim Jadi Jawara Konservasi

Jangan Ganti Tidur Malam dengan Siang, Dengarlah Aktor Dunia Lain Ini

BNI wondrstage Guncang Dukuh Atas!

BTN Tegaskan Komitmen Perumahan di Momen Kemerdekaan RI ke-80