EmitenNews.com - Banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera –Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat– pada November 2025 dipicu oleh cuaca ekstrem yang melampaui standar mitigasi banjir nasional. Kombinasi hujan ekstrem dan longsor memicu banjir bandang, termasuk di Desa Garoga, Tapanuli Selatan, digambarkan sebagai  kejadian yang sangat jarang terjadi.

Demikian hasil kajian penelitian Tim Riset Institut Teknologi Bandung (ITB), seperti dikutip Sabtu (21/2/2026).

Dari kajian penelitian tim riset ITB itu diketahui curah hujan dengan intensitas sangat ekstrem membuat kapasitas sistem pengendalian banjir yang ada tidak dirancang untuk menahan skala peristiwa tersebut.

Koordinator Tim Riset Center for Analysis and Applying Geospatial Information (CENAGO) ITB Heri Andreas dalam keterangannya, mengatakan bahwa kondisi tersebut sebagaimana hasil kajian forensik berbasis analisis presipitasi ekstrem, karakteristik hidrologi tiga daerah aliran sungai (DAS) yakni Badiri, Garoga, dan Batang Toru di Sumatera Utara, perubahan tutupan lahan, serta simulasi hidrologi-hidrolika.

"Curah hujan dengan intensitas sangat ekstrem ini akibat Siklon Tropis Senyar sehingga kapasitas sistem pengendalian banjir yang ada tidak dirancang untuk menahan skala peristiwa tersebut," ujarnya.

Hasil analisis citra satelit resolusi tinggi menunjukkan curah hujan pada akhir November 2025 mencapai level ekstrem 150-300 milimeter per hari hingga sangat ekstrem lebih dari 300 milimeter per hari.

Model probabilitas ITB tersebut mengategorikan kejadian itu sebagai R700 hingga R1000 atau siklus ulang 700 sampai 1.000 tahun, melampaui standar mitigasi banjir nasional yang umumnya dirancang hingga R50.

Dalam kajian tersebut, tim ITB tidak hanya mengandalkan digitasi citra satelit untuk mengklasifikasikan tutupan lahan, tetapi juga menggabungkan data presipitasi dari BMKG dan NOAA Amerika Serikat, pendefinisian DAS dan sub-DAS, digital elevation model (DEM), serta parameter hidrologi dan hidrolika.

"Secara kuantitatif kontribusi perubahan tutupan lahan yang dituduhkan relatif kecil dibandingkan faktor cuaca ekstrem,” kata Heri. 

Pembahasan hasil kajian tersebut juga mengemuka dalam grup diskusi bertajuk “Memahami Root Cause Banjir Sumatera 2025 untuk Rekonsiliasi Konklusi Berbasis Keilmuan” di Jakarta belum lama ini. Hadir perwakilan kementerian, lembaga, serta organisasi profesi.